Kisah Cinta Mpu Sedah dan Prabarini di Balik Penerjemahan Mahabharata ke Dalam Bahasa Jawa

Kisah Cinta Mpu Sedah dan Prabarini di Balik Penerjemahan Mahabharata ke Dalam Bahasa Jawa
Ilustrasi: Salah satu koleksi lontar di Gedong Kirtya. Peristiwa penerjemahan Mahabarata ke dalam bahasa Jawa ternoda dengan darah yang tertumpah dari sang penerjemah. (Kintamani)

Mpu Sedah, orang yang ditugaskan menyadur Bhatarayudha harus mati di tangan sang pemberi tugas, Jayabaya. Sebab kematiannya adalah cinta lama yang bersemi kembali pada mantan kekasih yang telah menjadi milik Jayabaya. Ia bahkan ogah meminta ampun kepada Jayabaya hingga golok pancung menebas lehernya.

Inibaru.id – Mpu Sedah berasal dari Desa Adiluwih yang berada di selatan ibukota Kediri. Diceritakan, Mpu Sedah adalah pemuda cerdas luar biasa dan tampan meski ia berasal dari kasta sudra miskin. Sementara itu, hiduplah seorang gadis yang amat cantik di desa tetangga bernama Prabarini.

Seperti yang bisa ditebak, mereka saling jatuh cinta. Sayangnya, cerita cinta mereka nggak berakhir bahagia. Banyak orang yang sirik dengan hubungan mereka. Untuk memisahkan kedua sejoli ini, mereka mengadu kepada Jayabaya bahwa ada seorang gadis yang amat cantik di desa.

Yang namanya raja, tentu harus mendapat semua yang terbaik. Akhirnya, dibawalah Prabarini ke istana untuk menjadi istri Jayabaya. Mpu Sedah patah hati. Begitu juga Prabarini. Siang dan malam mereka berdoa kepada Wisnu agar dipertemukan kembali.

Doa mereka terjawab. Prabu Jayabaya sedang mencari ahli bahasa Sansekerta yang mampu menerjemahkan 6 Parwa Mahabharata ke dalam bahasa Jawa sebagai wujud kemenangannya atas Jambi dan Selat Semenanjung.

Ilustrasi wajah Jayabaya. (Jambi Update)
Ilustrasi wajah Jayabaya. (Jambi Update)

Dengan mempertaruhkan lehernya, Mpu Sedah mengikuti seleksi. Kecerdasan pemuda ini memang nggak ketulungan. Sri Baginda Jayabaya sendiri yang mengalungkan ronce melati pada Sedah yang diam-diam menyimpan rindu dan dendam.

Jayabaya sangat terkesan dengan kecerdasan Mpu Sedah. Tibalah suatu ketika Mpu Sedah berkeluh kesah mengenai bagian Salyaparwa yang menceritakan kecantikan Dewi Setyawati istri Salya. Ia merasa nggak mampu menjabarkan kecantikan Setyawati yang luar biasa. Ia lantas meminta model sungguhan sebagai solusinya.

Jayabaya mngizinkan Sedah untuk memilih perempuan mana pun yang menurutnya sesuai. Tentu saja ia memilih Prabarini. Setuju bahwa Prabarini yang paling cantik, Jayabaya mengizinkan Sedah bertemu dengan Prabarini. Nggak terbayang bahagianya hati Sedah. Penantian panjangnya akhirnya bakal tuntas.

Selama berbulan-bulan, ia dan Prabarini bertemu. Yang namanya masih cinta, kerinduan pun mereka lepaskan. Sialnya, ada seseorang yang melihat dan melaporkannya kepada Jayabaya.

“Mati!” begitu titah Jayabaya atas kekurangajaran Sedah yang baru 25 tahun.

Meskipun terbukti bersalah, Sedah enggan berlutut apalagi memohon ampun. Sambil tersenyum di depan algojo pancung, Sedah berdiri dan mengatakan bahwa hati Prabarini adalah miliknya. Yang dimiliki Jayabaya hanyalah tubuhnya. Sedah tewas tanpa penyesalan.

Selanjutnya, Mpu Panuluh yang sebelumnya nggak sanggup mengerjakan Barathayudha diperintahkan untuk mengerjakan bagian yang ditinggalkan Sedah. Jadi, bagian babak permulaan sampai tampilnya Prabu Salya ke medan perang merupakan karya Mpu Sedah, sementara sisanya adalah karya Mpu Panuluh. Pada 6 November 1157 karya ini selesai.

Oya, versi lain mengatakan bahwa kala itu yang dijadkan model oleh Sedah adalah putri Jayabaya. Namun, karena Sedah berbuat kurang ajar, Jayabaya mengambil nyawanya. Mana yang benar? Kita nggak pernah tahu karena sejarah selalu dibuat oleh orang yang menang.

Duh, tapi tragis ya, Millens? (Myd,Mon/IB21/E03)