Kirab Malam Selikuran Keraton Solo, Tradisi Ramadan Penuh Makna

Kirab Malam Selikuran Keraton Solo, Tradisi Ramadan Penuh Makna
Kirab Malam Selikuran Ramadan 2022 Keraton Solo. (Merahputih.com/Ismail)

Pada Jumat (22/4/2022) atau malam ke-21 Ramadan 2022, Keraton Solo mengadakan Kirab Malam Selikuran. Dalam kirab ini, ada tumpeng sewu (1.000) tumpeng yang diarak ke Masjid Agung Kota Solo. Seperti apa sih makna dari tradisi ini?

Inibaru.id – Pada Jumat (22/4/2022) malam, Keraton Solo menggelar Kirab Malam Selikuran Ramadan 2022. Pada acara ini, disajikan juga seribu tumpeng atau yang dikenal sebagai tumpeng sewu. Seperti apa sih keseruan dari tradisi ini?

Tradisi yang digelar pada malam ke-21 Ramadan ini diawali dengan dibukanya pintu dari Keraton Solo. Setelah itu, terlihat ratusan kerabat dan abdi dalem keluar dari keraton sembari membawa seribu tumpeng. Tumpeng yang ditempatkan di dalam kotak kayu dan dipanggul para abdi dalem ini diarak ke Masjid Agung Kota Solo.

Selama perjalanan, terdengar doa dan lantunan gamelan. Selain itu, arak-arakan tumpeng yang melewati Jalan Supit Urang, Pasar Kliwon ini juga dihiasi dengan lampion serta lampu ting sehingga membuatnya terlihat semakin meriah.

“Upacara ini dilaksanakan sebagai kewajiban Keraton Kasunanan Surakarta sebagai Kerajaan Mataram Islam, sampeyan dalam memerintahkan utusan dalam untuk membawa hajat dalam tumpeng sewu,” ungkap Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat KP Dani Nur Adiningrat saat berada di masjid Agung Kota Solo, Jumat (22/4).

Begitu seribu tumpeng ini sampai di serambi masjid, doa pun kembali dipanjatkan. Setelah itu, tumpeng pun dibagikan ke warga yang sudah menunggu dengan antusias.

Tumpeng sewu alias seribu tumpeng yang dikirab abdi dalem Keraton Solo. (Kompas/Fristin Intan Sulistyowati)
Tumpeng sewu alias seribu tumpeng yang dikirab abdi dalem Keraton Solo. (Kompas/Fristin Intan Sulistyowati)

“Tumpeng sewu ini adalah untuk wilujeng. Wilujeng itu dari kata kawilujengan atau keselamatan. Jadi doa keselamatan dilambangkan 1.000 bulan lewat 1.000 tumpeng dan lewat lampu ting menandakan cahaya jadi penuh cahaya atau penuh barokah,” lanjut KP Dani Nur Adiningrat.

Nah, doa keselamatan ini ternyata untuk Raja Keraton Surakarta, Paku Buwono XIII Hangabehi serta kerabat, hingga seluruh rakyat dan juga negara Indonesia. Harapannya, dengan memanjatkan doa dan melakukan tradisi di bulan Ramadan yang penuh berkah, maka doa ini bisa terkabul.

Oya, nasi tumpeng yang diarak ini ukurannya kecil berupa nasi gurih dengan kedelai hitam, cabai hijau, mentimun, serta rambak. Selain itu, ada buah-buahan, apem, jadah, dan wajik.

“Mau dimakan (nasi tumpengnya) dijadikan berkah. Dapat satu pasang,” ujar salah seorang warga yang mendapatkan tumpeng, Puji Lestari.

Wah, tradisi tumpeng sewu malam selikuran Keraton Solo ini memang sangat menarik, ya Millens. (Kom/IB09/E05)