Kian Langka, Ironi Pohon Asam yang Pernah Jadi Cikal Bakal Nama Semarang

Kian Langka, Ironi Pohon Asam yang Pernah Jadi Cikal Bakal Nama Semarang
Pohon asam di Pasar Peterongan Semarang. (Dotsemarang.blogspot)

Sejarah Semarang nggak bisa dilepaskan dari keberadaan pohon asam yang dulu banyak ditanam di jalanannya. Ironisnya, meski konon jadi cikal bakal nama "semarang", kini pohon asam semakin jarang kamu lihat.

Inibaru.id – Jika berbicara tentang sejarah Semarang, satu hal yang nggak bisa ketinggalan adalah pohon asam. Asam yang dalam bahasa Jawa disebut sebagai asem ini dipecaya menjadi cikal bakal penamaan Semarang, yang merupakan akronim asem arang-arang (pohon asam yang jarang-jarang).

Dalam berbagai literatur, sejarah Semarang disebutkan bermula pada abad ke-6. Kala itu, Semarang merupakan daerah pesisir yang yang bernama Pragota di bawah pemerintahan Kerajaan Mataran Kuno. Daerah pesisir ini lama-kelamaan mengalami pengendapan dan membentuk daratan.

Komplek makan Ki Ageng pandan Arang di Bergota. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
Komplek makan Ki Ageng pandan Arang di Bergota. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Kemudian, pada abad ke-15, Ki Ageng Pandan Arang ditempatkan oleh kerajaan Demak untuk menyebarkan Islam di daerah perbukitan Bergota (Pragota). Lambat laun, daerah tersebut semakin subur, yang secara mengejutkan mulai tumbuh pohon asam yang renggang jarangnya, hingga disebutlah Semarang.

Di Indonesia, pohon asam diketahui ditanam semenjak masa penjajahan Belanda. Pohon asam dikenal kuat dan akarnya menghujam ke tanah sehingga nggak mudah tumbang saat diterpa angin. Kayunya pun dikenal kokoh dengan kanopi rimbun, sehingga menjadi tempat favorit burung untuk bersarang.

Karena ketangguhannya, pohon asam banyak ditanam di Jawa, mulai dari kota besar hingga kecamatan, sepanjang Serang hingga Panarukan. Pohon asam juga akan tetap rimbun dan nggak akan gugur. Diameter pangkalnya sekitar 2 meter dengan ketinggian bisa mencapai 30 meter.

Pohon asam dengan buahnya yang sudah matang. (Dekochi)
Pohon asam dengan buahnya yang sudah matang. (Dekochi)

Yang istimewa, meskipun rimbun, daun dan buah dari tanaman bernama latin Tamarindus indica ini nggak mengotori jalanan. Buahnya dikenal bermanfaat sebagai campuran berbagai masakan dan jamu. Kandungannya berupa protein, lemak, hidrat arang, kalsium, fosfor, vitamin A, vitamin B1, dan C.

Nggak kurang dai 70 ribu pohon asam berdiri mengapit jalanan utama di Jawa dari zaman penjajahan hingga kemerdekaan. Sayang, proyek pelebaran jalan membuat tanaman yang berasal dari wilayah Afrika beriklim tropis ini terpaksa ditebang, dan sebagian lainnya ditebang tanpa alasan.

Yang lebih disayangkan, nggak ada usaha untuk menanam ulang pohon asam yang serupa sebagai penggantinya. Di sejumlah daerah, pohon asam ditebang karena alasan yang sepele, yakni untuk dibuat arang. Ya, arang kayu asam dikenal menghasilkan api yang panas dan tahan lama.

Asam, buah yang kerap menjadi bagian dari masakan tradisional di Indonesia. (Fwdlife)
Asam, buah yang kerap menjadi bagian dari masakan tradisional di Indonesia. (Fwdlife)

Kini, pohon asam semakin jarang ditemui. Padahal, dahannya yang rindang bakal bikin siapa pun betah berteduh di bawahnya. Pun di Semarang, pohon asam semakin jarang ditemui, meski punya peranan besar dalam penamaan Semarang. Ironis? Ya, ironis! (Mem/IB27/E03)