Kiai Telingsing dan Ihwal Mula Desa Sunggingan di Kudus

Kiai Telingsing dan Ihwal Mula Desa Sunggingan di Kudus
Kudus jadi tempat berdakwah Kiai Telingsing, tokoh dari Tiongkok. (Aroengbinang.com)

Desa Sunggingan selalu ramai dengan kunjungan masyarakat yang berziarah ke Makam Kiai Telingsing. Seperti apa ya sejarah sang kiai di desa yang berlokasi di Kabupaten Kudus ini?

Inibaru.id – Alkisah pada zaman dahulu, seorang mubalig keturunan Arab bernama Kanjeng Sunan Sungging sempat menyebarkan Islam di Nusantara sebelum memutuskan untuk pergi ke Tiongkok. Di sana, dia menikah dengan seorang perempuan lokal. Dari pernikahan ini, lahirlah seorang anak bernama The Ling Sing.

Tatkala usia sang anak mencapai 17 tahun, Kanjeng Sunan Sungging memintanya pergi ke Nusantara untuk melanjutkan apa yang dulu sempat dia lakukan. The Ling Sing mematuhinya. 

Wasiat sang ayah mengantarkan The Ling Sing tiba sampai ke sebuah wilayah di Jawa yang kini dikenal dengan Kabupaten Kudus. Dia pun kemudian bertemu dengan Syekh Ja’far Shodiq atau yang lebih dikenal dengan Sunan Kudus. Keduanya memiliki hubungan baik dan saling melengkapi satu sama lain.

Konon, Sunan Kudus belajar ilmu kekebalan tubuh kepada The Ling Sing. Sebaliknya, The Ling Sing belajar tentang akidah dari sang sunan. Nah, karena The Ling Sing juga aktif berdakwah sebagaimana Sunan Kudus, warga setempat pun mulai memanggilnya dengan sebutan kiai. Sejak saat itulah, dia dikenal dengan nama Kiai Telingsing.

Makam Kiai Telingsing yang ada di Desa Sunggingan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. (Beta News)
Makam Kiai Telingsing yang ada di Desa Sunggingan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. (Beta News)

Asal Nama Sunggingan

Selain mensyiarkan agama Islam di Kabupaten Kudus, Kiai Telingsing juga terkenal sebagai seorang pemahat ulung. Dia sangat ahli dalam seni ukir aliran Sun Ging. Saking mahysurnya kemampuan memahan Kiai Telingsing, Sunan Kudus sampai mengujinya.

Ketika Sunan Kudus menjamu seorang tamu jauh dari Tiongkok, Kiai Telingsing dimintai tolong untuk membuatkan cendera mata berbentuk sebuah kendi dengan ukiran kaligrafi. Dengan tegas, Kiai Telingsing menyanggupinya. Dia mampu menyelesaikan kendi dengan ukiran kaligrafi ini dalam waktu yang singkat. Tapi, Sunan Kudus merasa nggak cocok dengan hasil karyanya dan kemudian memecahkan kendi tersebut.

Tapi, setelah memecah kendi tersebut, Sunan Kudus terkejut saat melihat lafaz syahadat di dalamnya. Sejak saat itu, dia mengakui kesaktian Kiai Telingsing dalam hal memahat. Nah, tempat di mana Kiai Telingsing sering memahat itulah kini dikenal sebagai Desa Sunggingan, sesuai dengan aliran memahat yang dikuasai sang kiai.

Wah, jadi penasaran ya, masih ada nggak sih ukiran peninggalan Kiai Telingsing di Desa Sunggingan, Kudus? (Isk, Det, Jaw/IB31/E07)