Khawatir Lampion Teng-Tengan Punah, Perajin Sibuk Siapkan Penerus

Khawatir Lampion Teng-Tengan Punah, Perajin Sibuk Siapkan Penerus
Perajin teng-tengan perlu menyiapkan penerus agar tradisi kebudayaan ini terus hidup. (Inibaru.id/ Audrian F)

Jika tadinya seluruh warga Kampung Perbelan membuat lampion teng-tengan, kini tersisa dua orang. Ironis memang. Kampung yang terkenal dengan julukan Kampung Lampion itu terancam redup.

Inibaru.id - Slamet Nurcahyo, perajin lampion teng-tengan khas Semarang ini memang patut merasa khawatir. Sekarang, makin sedikit warga Perbalan, Purwosari yang menekuni pembuatan lampion unik ini. Padahal dulu hampir setiap rumah membuat dan memasarkannya. Itu juga yang menjadi sebab kampung ini disebut kampung lampion teng-tengan, Millens. Kini, Kampung Perbalan hanya menyisakan dua orang yang masih aktif membuat lampion kala Ramadan tiba.

Lampion ini dapat berputar ketika lilin menyala. (Inibaru.id/ Audrian F)

Slamet memang nggak tinggal di Semarang. Dia datang ke Perbalan dari Demak khusus untuk membuat teng-tengan. Meski demikian, rasa pedulinya terhadap mainan asli Semarang ini kuat. Sayangnya, dia mengaku nggak bisa jika harus meluangkan waktu untuk mengajari orang lain membuatnya. “Saya nggak punya banyak waktu di sini. Saya juga ada serabutan membuat pakan ikan. Nggak tahu penerusnya siapa. Anak saya juga berada di Demak,” ucapnya Rabu, (23/5).

Senada dengan Slamet, salah satu perajin lainnya, Wiwid juga meresahkan hal yang sama. Dia berkata kalau rival lampion teng-tengan bukan hanya lampion-lampion lain yang terbuat dari plastik. Tapi juga keengganan anak muda untuk meneruskan tradisi pembuatan lampion teng-tengan ini.

“Menurut saya harus terus dilestarikan. Ini kebudayaan Semarang yang tidak boleh punah. Kasian sama sesepuh yang sudah menitipkan ini semua kepada saya,” ujar Wiwid.

Bedanya, Wiwid sebagai warga asli Kampung Perbalan sudah menyiapkan penerus untuk menjadi perajin lampion teng-tengan. Salah satunya, Ariel, seorang anak warga Kampung Perbalan yang punya minat lebih untuk menggeluti pembuatan lampion teng-tengan ini.

“Dasarnya sepertinya karena saya orangnya suka seni, mungkin. Jadi saya tertarik untuk ikut membuat lampion teng-tengan ini,” tukas Ariel.

Meskipun belum semahir perajin yang lain, namun Ariel yakin kalau lambat laun dia akan piawai membuat lampion-lampion tersebut. "Saya sudah coba membuat. Bisa satu yang bagus tapi saat mau buat lagi nggak kayak lampion yang pertama. Masih butuh banyak belajar," ujar pemuda 18 tahun tersebut.

Ariel sibuk merangkai lampion ten-tengan. (Inibaru.id/ Audrian F)  

Wiwid kembali menambahkan. Inisiatif seperti ini perlu dilakukan sebab anak muda sekarang sudah berbeda dari zaman dahulu. Jika nggak dibimbing akan di luar kendali. "Perlu dibina dan dituntun terus. Soalnya masih muda pasti gampang goyah keinginannya," tutup Wiwid.

Kalau kamu punya ide nggak supaya lampion ini tetap eksis, Millens? (Audrian F/E05)