Kewur Uwi, Bentuk Rasa Syukur Kepada Alam dan Tuhan

Kewur Uwi, Bentuk Rasa Syukur Kepada Alam dan Tuhan
Makanan rupang, hidangan pelengkap kewur uwi (Kompas.com)

Masyarakat di Manggarai Timur nggak akan panen padi ladang sebelum melalui tradisi Kewur uwi atau bakar uwi. Tradisi ini merupakan simbol rasa syukur masyarakat setempat kepada alam dan Tuhan atas hasil bumi yang berlimpah.

Inibaru.id - Jika di Jawa ada tradisi sedekah bumi sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas hasil bumi, daerah yang berada jauh di Timur Pulau Jawa ini juga memiliki tradisi serupa. 

Daerah tersebut adalah Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Barat. Di sini ada tradisi yang dilaksanakan tiap tahun sebagai tanda untuk memulai panen padi di seluruh kampung di Kecamatan Elar Selatan. Nama tradisi ini Kewur Uwi.

Melansir Kompas.com (01/05/2018), Kewur Uwi dikenal dengan ritual Tapa Uwi (bakar uwi). Uwi merupakan sejenis umbi-umbian berwarna putih dan berserabut. Selain bakar uwi, biasanya warga juga memasak rupang (makanan yang dibungkus daun bambu muda). Ritual Kewur Uwi ini biasanya akan dilaksanakan tiap April dalam kalender pertanian warga setempat.

Tanaman uwi/ubi (Agrowindo.com)

Nggak semua orang boleh memakan uwi ini, Millens. Hanya kaum lelaki khususnya anak winar (laki-laki penerima anak gadis) yang bisa menikmati legitnya uwi ini. Jadi, kaum perempuan nggak boleh iri ya. Ha ha 

Millens tahu nggak mengapa yang dipakai umbi jenis ini?

Konon, dahulu makanan pokok warga Elar Selatan adalah uwi. Jadi, padi belum dikenal di Manggarai tuh. Populasi uwi juga melimpah di hutan kala itu. Masyarakat Elar Selatan bersyukur pada Tuhan yang telah bermurah hati. Karena itulah, warga setempat menciptakan dan masih melestarikan Kewur Uwi.

Nah, itu dia makna di balik tradisi Kewur Uwi. Semoga warisan budaya ini semakin dikenal dan dapat terus bertahan ya, Millens(IB13/E05)