Ketika Bela Diri dan Tari Menjadi Satu Lewat Kesenian Kuntulan

Kuntulan menjadi salah satu kesenian Pemalang yang nyaris punah. Pada masa kejayaannya, kesenian ini biasanya ditampilkan pada acara-acara hajatan. Hm, seperti apa sih?

Ketika Bela Diri dan Tari Menjadi Satu Lewat Kesenian Kuntulan
Kuntulan menggabungkan bela diri dan tari. (Infotegal)

Inibaru.id – Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, memiliki beragam kesenian menarik. Meski sudah jarang dijumpai, Kuntulan menjadi salah satu kesenian yang menarik di sana. Kesenian dengan napas Islami ini menggabungkan gerakan-gerakan pencak silat dengan musik rebana.

Kuntulan biasanya digunakan untuk menyambut tamu kehormatan. Selain menjamu tamu, kesenian ini juga ditampilkan dalam acara-acara hajatan.

Selain dikenal dengan nama “kuntulan”, warga Pemalang mengenal kesenian ini sebagai Tari Trengganom. Jumlah penarinya banyak, lo.

Sebelum pertunjukan dimulai, kamu harus menyiapkan ruang yang cukup luas. Ini karena penarinya mencapai 30 orang. Selain penari, ada pula 10 orang yang menjadi penyanyi. Wah, wah, kebayang kan semeriah apa kesenian ini?

https://budayajawa.id/wp-content/uploads/2018/01/Tari-Kuntulan-Pemalang.jpg

Selain di Pemalang, Kuntulan juga ada di Banyuwangi. (Budayajawa)

Alat musik yang digunakan adalah terbang, jedor, seruling, dan harmonika. Saat tarian dimulai, salawat Nabi Muhammad SAW akan didendangkan.

Sekali digelar, pertunjukan ini bisa memakan waktu selama empat hingga lima jam, lo. Untungnya, para penari nggak perlu menggunakan rias muka.

Sayang, Kuntulan kini jarang dijumpai. Modernitas membuat generasi muda di Pemalang enggan mempelajari kesenian ini. Kuntulan kini semakin jarang ditampilkan.

Kalau kamu peduli dengan budaya sendiri, yuk, lestarikan dengan cara mempelajarinya. (IB15/E03)