Kethek Ogleng, Tarian Rakyat yang Terinspirasi dari Legenda Panji

Kethek Ogleng, Tarian Rakyat yang Terinspirasi dari Legenda Panji
Kethek Ogleng, Tarian yang sering ditampilkan setelah panen atau pada sebuah hajatan. (Instagram/Budi Light)

Tari Kethek Ogleng menjadi salah satu hiburan yang disukai oleh berbagai kalangan masyarakat. Biasanya, tarian ini digelar setelah panen atau pesta hajatan.

Inibaru.id – Istilah Kethek Ogleng berasal dari dua kata, yakni kethek dan ogleng. Jadi, tari Kethek Ogleng adalah seni tari yang gerakannya menirukan tingkah laku kethek (kera) dengan iringan musik sederhana yang berirama gleng-gleng, Millens.  

Kostum yang digunakan oleh tokoh utama penarinya cukup menarik. Mereka menggunakan kostum menyerupai kera putih seperti tokoh Hanoman dalam pewayangan. Bedanya, Hanoman mengenakan kain bermotif kotak empat warna sedangkan Kethek Ogleng mengenakan kain bermotif kotak dua warna, yaitu hitam dan putih.

Tokoh utama penarinya berpakaian mirip Hanoman. (Instagram/Saviul Anan)
Tokoh utama penarinya berpakaian mirip Hanoman. (Instagram/Saviul Anan)

Tari Kethek Ogleng merupakan kesenian rakyat yang menjadi salah satu ikon Kabupaten Wonogiri. Bahkan, tari Kethek Ogleng di Wonogiri terdaftar dalam buku Warisan Budaya Tak Benda yang dikeluarkan oleh Kemendikbud pada 2018. Menariknya, tarian ini juga lumayan populer di wilayah sebelahnya, yaitu Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

Lantas, apa beda tarian Kethek Ogleng dari kedua wilayah tersebut? Ternyata nggak banyak, Millens. Secara garis besar, dari sisi tata busana dan tata rias sama. Tarian Kethek Ogleng dari kedua kabupaten juga sama-sama menonjolkan tokoh tari yang merepresentasikan seekor kethek atau kera.

Asal Muasal Kethek Ogleng

Tari Kethek Ogleng di Wonogiri diciptakan oleh warga asli Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah bernama Darjino pada tahun 1990-an. Tarian ini kemudian disempurnakan Suwiryo.

Awalnya, gerakan tari Kethek Ogleng dibuat menyerupai gerakan-gerakan kera yang sangat akrobatik sehingga cepat digemari oleh masyarakat Wonogiri. Tapi, gerakan-gerakan ini mengalami perubahan sepeninggal Suwiryo, tepatnya sejak pengembangan tarian diteruskan oleh Sukijo.

Gerakannya lebih dari sekadar gerakan akrobatik. Ada juga gerakan yang terinspirasi dari cerita Panji yang populer di kalangan masyarakat Jawa sejak zaman Majapahit.

Sebagian dari Tari Kethek Ogleng terinspirasi dari Legenda Panji. (Sering Jalan)
Sebagian dari Tari Kethek Ogleng terinspirasi dari Legenda Panji. (Sering Jalan)

Kisah Cinta Panji Asmoro Bangun

Omong-omong, tari Kethek Ogleng juga punya unsur asmaranya. Yang dikisahkan dalam tarian ini adalah cerita cinta pasangan Panji Asmoro Bangun dengan Dewi Sekar Taji yang berlatar Kerajaan Kediri dan Jenggala.

Dikisahkan, Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekar Taji saling  mencintai. Namun, Raja Jenggala, ayah Dewi Sekar Taji mempunyai keinginan untuk menikahkan Dewi Sekar Taji dengan pria pilihannya.

Dewi Dekar Taji kemudian meninggalkan Kerajaan Jenggala tanpa sepengetahuan sang ayah karena nggak setuju dengan perjodohan tersebut. Ia menyamar sebagai Endang Rara Tompe dan pergi menetap di sebuah gunung. Mendengar berita itu, Panji bergegas mencari Dewi Sekar Taji.

Dalam pencariannya, Panji menyamar sebagai seekor kera. Lalu keduanya pun bertemu tanpa mengetahui penyamarannya masing-masing. Hingga akhirnya mereka saling mengungkap identitas aslinya dan kembali ke Jenggala untuk menikah.

O ya, tarian yang mengisahkan kisah cinta Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekar Taji dalam tari Kethek Ogleng disebut dengan tari Tompe, Millens. Keberadaan tari Tompe inilah yang membuat keseluruhan gerakan tari Kethek Ogleng jadi lebih menarik.

Omong-omong, kamu pernah menonton tarian Kethek Ogleng ini belum?  (Sol, Urb, Ind/IB32/E07)