Kesempurnaan Lelaki dalam Primbon Jawa, Masihkah Relevan?

Kesempurnaan Lelaki dalam Primbon Jawa, Masihkah Relevan?
Motogologo standar kesempurnaan lelaki menurut Primbon Jawa. (Instagram/Danielrobertd)

Orang Jawa memiliki Primbon yang membahas tentang segala hal dan digunakan sebagai pedoman hidup. Bahkan, Primbon juga membahas standar untuk menilai kesempurnaan seorang lelaki, lo.  

Inibaru.id – Orang Jawa zaman dahulu sering menggunakan Primbon sebagai pedoman hidup. Di sana, ada banyak catatan yang digunakan untuk mengambil langkah-langkah atau keputusan, termasuk dalam hal mencari jodoh, melakukan aktivitas, dan lain-lain.

Menariknya, di dalam Primbon juga, ada sejumlah petunjuk yang bisa dipakai laki-laki Jawa untuk mendapatkan kesempurnaan dalam kehidupannya. Dengan memakai petunjuk ini, laki-laki Jawa disebut-sebut bisa menjalani kehidupan dengan baik.

Dalam Primbon Jawa, standar kesempurnaan lelaki bisa dibagi menjadi beberapa hal, yaitu wismo, wanito, turogo, ukilo dan curigo. Biasanya, kelima standar ini disingkat menjadi motogologo. Yuk kita kulik satu per satu arti dari standar-standar kesempurnaan tersebut.

Wismo (rumah)

Bagi orang Jawa dulu, seseorang yang memiliki keris berarti memiliki sifat <i>kendel.</i> (Instagram/Birotapemsetdadiy)
Bagi orang Jawa dulu, seseorang yang memiliki keris berarti memiliki sifat kendel. (Instagram/Birotapemsetdadiy)

Wismo secara harfiah dapat diartikan sebagai rumah. Artinya, seorang laki-laki dianggap sempurna bila dia sudah memiliki tempat berteduhnya sendiri.

Bagi masyarakat Jawa, Wismo juga dapat diartikan sebagai seorang lelaki harus sanggup melindungi dan dijadikan sebagai tempat berlindung (rumah) bagi keluarganya.

Garwo (istri)

Wanita adalah lambang kehidupan dan penghidupan, kesuburan, kemakmuran, dan kesejahteraan. Lelaki dianggap sempurna bila sudah memiliki istri. Lelaki yang sempurna juga harus bisa bertanggung jawab atas segala kebutuhan istrinya.

Turogo (kuda)

Secara harfiah, turogo diartikan sebagai kuda. Pada zaman dahulu, kuda difungsikan sebagai alat transportasi. Tapi, jika kita mengartikannya secara filosofis, maknanya adalah seorang lelaki harus cekatan dalam mencari nafkah untuk keluarga. Jadi, lelaki sempurna adalah lelaki yang sudah mempunyai pekerjaan untuk memberi nafkah keluarganya dan kendaraan untuk aktivitasnya sehari-hari.

Dulu burung difungsikan sebagai penghibur, kesenangan, atau hobi. (Instagram/Gendhis Jawa)
Dulu burung difungsikan sebagai penghibur, kesenangan, atau hobi. (Instagram/Gendhis Jawa)

Kukila (burung)

Kukila dapat diartikan sebagai burung. Dulu, seorang lelaki yang sudah mapan memiliki burung peliharaan seperti kutilang, kepodang, jalak, kakatua, atau merak. Nah, bagi mereka, burung difungsikan sebagai penghibur, kesenangan atau hobi.

Jadi, laki-laki dikatakan sempurna bila sudah memiliki kesenangan tersendiri. Selain untuk dirinya, lelaki sempurna harus bisa menyenangkan dan membahagiakan keluarga, istri, dan anaknya.

Curigo (keris atau pusaka)

Curigo dapat diartikan sebagai keris, pusaka, atau senjata yang dapat diandalkan. Keris ini menjadi lambang kewaspadaan, kesiagaan, dan alat untuk mempertahankan keempat standar sebelumnya.

Dulu, keris dianggap sebagai simbol sifat kendel yang harus dimiliki seorang laki-laki Jawa. Dengan adanya sifat ini pula, lelaki Jawa harus punya kekuatan dan keberanian untuk melindungi anak dan istrinya dari segala macam ancaman.

Gimana, menurut kamu standar kesempurnaan lelaki menurut Primbon Jawa masih relevan pada zaman sekarang nggak, Millens? (Lar, Bad, Bon/IB32/E07)