Kentrung Demak, Sajian Cerita Tutur yang Hampir Hilang

Kentrung Demak merupakan seni bertutur yang dibawakan seorang dalang dengan iringan alat musik Terbang. Salah satu pelestari kentrung Demak yaitu Samsuri. Usianya yang sudah lanjut nggak melunturkan semangatnya untuk melestarikan kesenian yang hampir punah ini, lo. Keren banget!

Kentrung Demak, Sajian Cerita Tutur yang Hampir Hilang
Mbah Samsuri saat memainkan Kentrung.(coretan-indpras.blogspot.com)

Inibaru.id – Jauh sebelum Stand-up Comedy menjadi salah satu seni yang digandrungi anak zaman now, kesenian kentrung pernah menjadi magnet bagi orang-orang yang ingin melihat seni bertutur, lo. Bukan hanya soal seni, kentrung juga merupakan media dakwah bagi masyarakat yang berada di daerah pantura Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kesenian jenis apakah ini?

Kentrung merupakan seni bercerita dengan iringan alat musik pukul. Kentrung bisa dimainkan oleh satu orang atau lebih bergantung atas banyaknya alat musik yang digunakan. Nah, kalau di Demak, Jawa Tengah, seni kentrung hanya dimainkan oleh satu orang saja, lo. Orang itu berperan sebagai dalang sekaligus pemain musik. Alat musik yang dimainkan ada tiga, yang biasa disebut terbang.

Terbang ini terdiri dari keteplak (kecil), ketipung (sedang), dan gendung (besar). Cara memainkannya dengan dipukul menggunakan pola yang berbeda-beda. Fungsi terbang dalam kesenian ini sebagai penghubung antarkalimat. Terbang juga yang menjadikan pertunjukan Kentrung nggak monoton, mengingat waktu pertunjukan bisa mencapai dua hingga hingga jam.

Melansir laman humas.demakkab.go.id, Mochammad Samsuri, seorang seniman kentrung asal Demak berpendapat, kentrung berasal dari kata “njluntrung” yang berarti keliling. Pasalnya, seniman tutur pada zaman dulu suka berkeliling dari satu desa ke desa yang lain. Kalau di Eropa yang serupa itu disebut trubadur.

Dikenal sebagai Kota Wali, cerita yang dibawakan dalam kentrung Demak biasanya bernuansa Islam dengan menggunakan bahasa Kawi (Jawa Kuno)dan Jawa krama alus. Selain itu, tembang Jawa seperti Dandanggula, Pangkur, Sinom, Gambuh, dan tembang lainnya sering disisipkan di tengah-tengah cerita.

Menikmati kesenian ini memang nggak bisa serta-merta. Pasalnya, kentrung umumnya dimainkan pada hajatan seperti khitanan, pernikahan, tujuh bulanan, dan acara-acara peringatan hari besar seperti Garebek Besar Demak pada Agustus 2016.

Tapi tenang saja, kamu bisa kok melihat sajian kentrung Demak via Youtube. Ada beberapa kanal yang mengunggah pertunjukan Mbah Samsuri ketika bermain Kentrung. Selain kesenian kentrung Demak, kamu juga akan menemukan kesenian kentrung dari daerah lain seperti Tulungagung, Jepara, Grobogan, Lamongan, dan Pati.

Namun ketika kamu telusuri lebih dalam, ada satu persamaan kentrung daerah satu dan lainnya. Persamaan itu berpusat di dalangnya. Kamu akan menjumpai bahwa dalang Kentrung ini kebanyakan adalah orang tua yang umurnya lebih dari 50 tahun seperti Mbah Samsuri, Mbok Gimah, dan Mbah Sapuan.

Itulah kemungkinan jadi sebab kesenian kentrung ini menjadi kesenian yang terancam punah karena keminimalan regenerasi pemain. Intensitas permainan kentrung yang terbatas juga menjadi salah satu faktor ketidakberkembangan kesenian ini.

Nah, kamu generasi milenial perlu tergerak untuk melestarikannya nih…. (IB13/E02)