Keajaiban Kue Apem, Simbol Ampunan dan Tolak Bala

Keajaiban Kue Apem, Simbol Ampunan dan Tolak Bala
Apem punya berbagai filosofi. (Instagram/ara.foods.soc)

Di Jawa, kue apem populer sebagai hidangan di beberapa perayaan. Selain mempunyai sejarah yang panjang, kue apem juga punya keajaiban di tiap gigitnya. Apa saja?

Inibaru.id – Jajan pasar dengan bahan dasar tepung beras ini lazim ditemukan pada acara-acara tertentu. Bahkan, kudapan satu ini kini banyak dijajakan di pasar tradisional hingga toko kue terkenal.

Teksturnya yang sedikit kenyal dengan cita rasa yang khas bikin kue apem tetap eksis hingga kini. Namun, tahukah kamu keajaiban di balik kudapan satu ini?

Kue apem disebut-sebut penuh dengan filosofi. Khususnya di Jawa, apem merupakan simbol permohonan ampun dari berbagai kesalahan. Loh, kok bisa? Begini, istilah apem berasal dari bahasa Arab, yaitu afuwan atau afuwwun yang berarti ampunan.

Untuk menyederhanakannya, masyarakat Jawa menyebutnya apem. Di Cirebon, apem disebut-sebut sebagai simbol tolak bala.

Ape, di megengan. (Kompas.com)
Ape, di megengan. (Kompas.com)

Di beberapa daerah, apem sering menjadi hidangan dalam berbagai perayaan, yang umumnya disebut Apeman. Masyarakat Madura, misalnya, akan membuat apem menjelang Ramadan, kemudian membagikannya kepada tetangga sebagai bentuk silaturahmi.

Sementara, bagi masyarakat Jawa, apem biasanya disajikan dalam perayaan megengan menjelang Ramadan. Sebagai informasi, megengan berarti menahan diri, yang merupakan implementasi dari puasa. Apem yang juga berarti ungkapan syukur akan dibawa ke masjid atau surau untuk dibagikan ke tetangga dan kaum duafa.

Sementara, di Yogyakarta, apem menjadi bintang utama saat perayaan Jumenengan ke-24 Sri Sultan Hamengku Buwono X pada 2012 lalu sebagai symbol rasa syukur.

Gunungan apem pada acara Ya Qowwiyu. (Okezone.com)
Gunungan apem pada acara Ya Qowwiyu. (Okezone.com)

Oya, apem juga ada yang dibagikan pada Safar (bulan kedua dalam kalender Hijriah) dan dibagikan kepada tetangga. Tradisi ini dilakukan masyarakat Klaten, Jawa Tengah, dengan nama Ya Qowiyyu.

Yap, selain sarat akan makna, apem juga punya sejarah yang panjang. Konon, kue apem mini dibuat pada zaman Sunan Kalijaga. Kala itu Ki Ageng Gribik atau Sunan Geseng yang merupakan murid Sunanan Kijaga pulang dari haji dan melihat masyarakat Desa Jatinom, Klaten, kelaparan.

Atas inisiatifnya, Ki Ageng Gribik lalu membuat apem untuk dibagikan kepada masyarakat. Saat membagikan apem, dirinya mengajak masyarakat untuk turut melafalkan zikir Qowiyyu (Allah Maha-kuat).

Alhasil, masyarakat pun kenyang. Hinga kini masyarakat setempat melestraikan tradisi apeman yang dinamai upacara Ya Qowiyyu setiap Safar.

Wah menarik banget sejarah dan filosofi yang memyelimuti tiap gigit kue apem ya, Millens! (Bri/IB27/E03)