Karnaval Dugderan Wujud Pluralisme Kota Semarang

Karnaval Dugderan Wujud Pluralisme Kota Semarang
Replika warak ngendog sebagai ikon Kota Semarang dipanggul peserta saat Karnaval Budaya Dugderan, Jumat pagi (3/5). (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Dugderan merupakan acara tahunan di Kota Semarang yang diselenggarakan untuk menyambut bulan Ramadan. Sebelum sampai pada acara utama berupa prosesi dugderan, panitia menggelar Karnaval Budaya Dugderan yang diikuti oleh pelajar se-Kota Semarang.

Inibaru.id - Jumat pagi (3/5) kawasan Simpang Lima hingga jalan Pemuda dipadati oleh ribuan warga umum yang bersiap untuk menyaksikan Karnaval Budaya Dugderan. Diawali dengan apel di lapangan Simpang Lima pada pukul 06.00 WIB, para peserta berkumpul dan bersiap menyapa warga yang bersiap menyaksikan.

Ribuan peserta dengan kostum adat memadati lapangan Simpang Lima semarang sebelum berpawai mengitari Kawasan Simpang Lima dilanjutkan ke jalan Pahlawan dan berakhir di Taman Indonesia Kaya. Multazam Ahmad, ketua takmir Masjid Raya Baiturrohman sekaligus panitia acara ini memperkirakan 14 ribu peserta meramaikan karnaval ini. “Anak PAUD sampai SMA ikut memeriahkan acara ini, sekitar 800an sekolah mengirimkan delegasi untuk ikut pawai,” Kata Multazam.

Peserta karnaval berjalan berarakan dengan rute Lapangan Simpang Lima hingga Taman Indonesia Kaya. (Inibaru.id/ Annisa Dewi)

Meskipun bertujuan untuk menyambut bulan Ramadan, namun peserta yang terlibat bukan hanya berasal dari sekolah Islam, Millens. Karnaval ini juga dimeriahkan siswa siswi beragama lain. Dengan berbalut pakaian adat dan membawa pernak pernik meriah, para peserta ini berjalan berarakan hingga titik finish. Selain meriah, acara ini juga menyuguhkan pemandangan menarik karena peserta berasal dari banyak suku yang mencerminkan persatuan dan pluralisme Kota Semarang. Yap, acara ini menjadi contoh toleransi yang menyejukkan.

Penampilan liong di tengah karnaval dugderan. (Inibaru.id / Annisa Dewi)

“Saya senang ikut acara ini, bisa bertemu banyak orang,” kata Erwin yang saat itu mengenakan pakaian adat Padang. Siswa SD Wesley yang mengaku menjadi peserta karnaval untuk kedua kalinya ini nampak gembira berkumpul dengan teman-temannya yang mengenakan baju adat dari berbagai suku di Indonesia.

Potret seorang anak dengan baju daerah yang mengikuti karnaval dugderan. (Inibaru.id / Annisa Dewi)

Warga yang menyaksikan dari bahu jalan pun nampak antusias untuk mengikuti acara hingga akhir. “Sayang sekali karnaval kali ini semrawut karena jalanan tidak ditutup, tidak seperti tahun lalu,” kata Cici, warga yang turut menyaksikan karnaval.

Replika warak ngendog yang dibawa peserta mewarnai karnaval dugder. (Inibaru.id / Zulfa Anisah)

Multazam mengatakan bahwa acara yang menjadi agenda tahunan Pemerintah Kota Semarang dengan Takmir Masjid Raya Baiturrahman ini bertujuan untuk membangun keberadaban, budaya, dan karakter. “Semoga di hari mendatang, manajemen acara serupa bisa ditingkatkan,” tutup Multazam seusai acara yang berakhir pukul 10.00 WIB itu.

Buat kamu yang sudah melewatkan karnaval ini, jangan sampai ketinggalan prosesi utama Dugderan yang akan digelar hari ini, Millens! (Zulfa Anisah/E05)