Kapal Canthik Rajamala, Simbol Bakti Anak kepada Ibunda

Kapal Canthik Rajamala, Simbol Bakti Anak kepada Ibunda
Canthik Rajamala yang  kini dipamerkan di Museum Radya Pustaka. (Instagram/Laurentiuslei)

Kamu tahu nggak, di Museum Radya Pustaka, Surakarta, terdapat canthik atau hiasan kapal yang menjadi saksi bakti seorang anak terhadap Ibunya. Sebutannya adalah Canthik Rajamala. Seperti apa ya ceritanya?  

Inibaru.id – Jika main ke Museum Radya Pustaka, Surakarta, kamu akan menemukan hiasan yang memiliki bentuk mirip wajah raksasa bernama Canthik Rajamala. Warnanya merah dengan hiasan mata melotot, taring yang tajam, serta rambut yang lebat. Meski terkesan seram, sebenarnya canthik Rajamala merupakan wujud bakti seorang anak kepada ibunya.

Omong-omong ya, canthik Rajamala adalah hiasan pada sebuah kapal yang pembuatannya dilakukan pada masa pemerintahan Raden Mas Sugandhi atau Paku Buwana V.

Menurut cerita, saat Raden Mas Sugandhi masih kecil, ibu kandungnya meninggal. Ayahnya, Paku Buwana IV kemudian mempersunting adik dari sang ibu. Sayangnya, pernikahan tersebut tidak dikaruniai keturunan sehingga Paku Buwana IV memerintahkan sang permaisuri untuk pulang ke Madura. 

Raden Mas Sugandhi sedih melihat kondisi ibu tirinya yang selama ini merawatnya dengan baik. Sebagai perwujudan rasa hormat, prihatin, dan tanda kasih sayang, dia pun mempersembahkan sebuah perahu berukuran besar bernama Rajamala.

Konon, semua abdi dalem kadipaten diperintahkan untuk  membuat kapal dan arca yang wajahnya menyerupai Raden Harya Rajamala. Arca itu akan dipasang sebagai canthik (cucuk) kapal Rajamala.

Museum Radya Pustaka Surakarta menjadi museum tertua di Indonesia. (BPPD Kota Surakarta)
Museum Radya Pustaka Surakarta menjadi museum tertua di Indonesia. (BPPD Kota Surakarta)

Kapal Rajamala Dipakai Hingga Pemerintahan Paku Buwana IX

Kapal buatan Raden Mas Sugandhi ini kemudian diberi nama Kyai Rajamala. FYI, Millens, sebutan Kyai atau Nyai diberikan ke benda atau barang milik Raja yang dianggap sebagai penghormatan atau persembahan.

Kapal Rajamala memiliki ukuran 58,9 x 6,5 meter dan memiliki dayung yang panjangnya 6,6 meter. Cukup besar untuk ukuran kapal pada masa itu.

Ukuran canthik Rajamala juga besar. Panjangnya 198 cm, lebarnya 53 cm, dan tingginya 99 cm. Betewe, canthik Rajamala ini terbuat dari kayu Jati yang berasal dari Hutan Danalaya, Kecamatan Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Saat itu, warga percaya dengan mitos kalau Keraton Surakarta membutuhkan kayu jati untuk membangun atau membuat sesuatu, pasti ada pohon di Hutan Danalaya yang akan tumbang dengan sendirinya.

Omong-omong, Canthik Rajamala menjadi koleksi paling populer di Museum Radya Pustaka. (Instagram/Penglembara)
Omong-omong, Canthik Rajamala menjadi koleksi paling populer di Museum Radya Pustaka. (Instagram/Penglembara)

O ya, Rajamala merupakan sosok berwatak keras hati, pemberani, dan ingin selalu menang sendiri. Selain itu Rajamala juga dikenal tiada tanding dan disimbolkan sebagai kekuatan untuk menangkal aura negatif. Karena itulah, penempatan canthik Rajamala lebih dari sekadar hiasan kapal, melainkan juga sebagai penolak bala. Canthik Rajamala juga melambangkan kebesaran Kraton Surakarta dan rajanya. 

Kapal ini cukup awet karena digunakan secara turun temurun dari masa pemerintahan Paku Buwana IV sampai Paku Buwana IX. Terakhir kali berlayar, kapal Kyai Rajamala ini digunakan oleh Sri Susuhunan Paku Buwana IX untuk membagikan makanan kepada masyarakat yang tertimpa musibah banjir. 

Menarik ya cerita tentang canthik Rajamala ini? (Har, Reg, Par/IB32/E07)