Jembul Tulakan, Cara Warga Jepara Mengenang Ratu Kalinyamat

Jembul Tulakan, Cara Warga Jepara Mengenang Ratu Kalinyamat
Tradisi Jembul Tulakan dilakukan demi mengenang keberanian Ratu Kalinyamat. (lingkarmuria.com)

Ratu Kalinyamat pernah melakukan tapa brata demi mencari keadilan atas kematian suaminya. Nah, demi mengenang keberanian sang ratu, warga Jepara rutin setiap tahun menggelar tradisi Jembul Tulakan.

Inibaru.id – Bicara tentang sejarah Kabupaten Jepara, pasti nggak lepas dari sepak terjang Ratu Kalinyamat. Nah, demi mengenang keberaniannya dulu, warga Jepara masih setia merayakan tradisi Jembul Tulakan.

Tradisi ini digelar di Desa Tulakan, Kecamatan Donorejo sebagai cara untuk mengenang aksi sang ratu melakukan tapa brata tatkala menuntut keadilan atas kematian Sunan Hadirin, suaminya, yang tewas di tangan Arya Penangsang.

“Sejarahnya, tempat pertapaannya Ratu Kalinyamat itu ada di Dukuh Sonder di desa ini. Dan, juga ditemukan rambut yang dibungkus dengan bambu. Akhirnya, muncullah tradisi Jembul Tulakan,” cerita salah seorang tokoh masyarakat Desa Tulakan, Subekti.

Meski begitu, tradisi ini dilakukan bukan dengan melakukan tapa brata, melainkan dengan menggelar sedekah bumi. Omong-omong ya, tradisi ini pasti dilakukan setiap hari Senin Pahing di bulan Dulkaidah atau Apit pada Penanggalan Jawa.

Layaknya tradisi-tradisi sedekah bumi di tempat lainnya, warga juga saling berebut gunungan yang disebut sebagai jembul. Kalau sampai mendapatkannya, kabarnya bisa membuat hama pertanian hilang dan akhirnya berimbas pada panen yang melimpah.

Jembul sebenarnya berarti ‘rambut’ dalam Bahasa Jawa. Namun, jembul dalam tradisi ini sama sekali nggak dibuat dengan bahan rambut. Bahan utamanya adalah bambu yang sudah dipotong dengan panjang satu meter kemudian disayat sehingga mirip seperti helaian rambut.

Tradisi Jembul Tulakan di Jepara. (Dok. Diskominfo Jepara)
Tradisi Jembul Tulakan di Jepara. (Dok. Diskominfo Jepara)

Jembul ini kemudian disusun jadi gunungan dan ditempatkan di depan Rumah Kepala Desa Tulakan. Setelah itu, jembul diarak ke masing-masing dukuh yang ada di desa tersebut. Nah, selama perjalanan ke dukuh-dukuh itu, warga berebut untuk mendapatkannya.

“Jembul ini nanti akan ditancapkan di sawah yang sudah ditanami padi. Warga yakin jembul ini bisa menangkal hama,” terang Maesaroh, Senin (31/7/2017).

Diinisiasi oleh Ki Demang Baratha

Tradisi Jembul Tulakan ini diinisiasi oleh Demang Tulakan pertama, Ki Demang Baratha. Sayangnya, nggak ada yang tahu persis kapan kali pertama tradisi ini dilakukan.

“Belum tahu persis tahunnya. Tapi yang pertama kali menginisasi adalah Ki Demang Baratha. Beliau wafat sekitar 1882,” jelas Subekti.

Omong-omong ya, sebelum tradisi puncak mengarak Jembul, pada Jumat Wage atau Kamis malam sebelumnya, warga mengadakan selamatan di petilasan pertapaan yang ada di Dukuh Sonder. Setelah itu, pada hari Minggu sebelumnya, bakal ada pementasan wayang kulit. Nah, barulah pada Senin Pahing, digelar arak-arakan.

“Prosesi puncak dilakukan dengan membasuh kaki kepala desa dengan air kembang setaman, lalu beliau mengelilingi gunungan sebelum akhirnya diarak ke dukuh masing-masing. Pada intinya, tradisi ini untuk mengenang sejarah sekaligus rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan rezeki selama ini,” pungkas Subekti.

Wah, jadi tertarik ya melihat tradisi Jembul Tulakan di Jepara ini, Millens. (Det/IB09/E05)