Jauh dari Wilayah Bangsawan, Dialek Ngapak Cerminkan Karakter Warga Banyumasan

Jauh dari Wilayah Bangsawan, Dialek Ngapak Cerminkan Karakter Warga Banyumasan
Dialek Ngapak pada kesenian Begalan khas Banyumas. (Youtube)

Ora ngapak, ora kepenak, pernah mendengar istilah itu? Tahukah kamu dari mana dialek itu berasal?

Inibaru.id – Bahasa Jawa memiliki jumlah penutur sebanyak sekitar 100 juta dan menduduki posisi ke-14 dunia. Namun, dari jumlah tersebut, bahasa Jawa masih terbagi-bagi menjadi beberapa dialek. Salah satu dialek yang menarik adalah dialek Banyumasan atau yang lebih dikenal sebagai dialek Ngapak.

Bagi orang di luar Keresidenan Banyumasan, dialek ngapak terdengar lucu. Nggak hanya intonasinya, kata-katanya pun terkesan lugas dan blak-blakan.

Wilayahnya yang jauh dari Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta secara nggak langsung menggambarkan kondisi sosial masyarakat. Masyarakat di wilayah ini nggak memiliki kelas bangsawan seperti di Surakarta dan Yogyakarta. Nggak heran, bahasanya pun terkesan kasar dan nggak mengenal jarak.

Meski begitu, jangan salah! Dialek Ngapak atau Bahasa Jawa Kawi adalah bahasa Jawa tertua, lo. Bahasa Jawa Kawi adalah akar dari dialek-dialek lain di Jawa Tengah.

Bahasa ini mendapat pengaruh dari Jawa Barat. Jika dialek Surakarta dan Yogyakarta menekankan bunyi “o”, dialek Ngapak justru menekankan bunyi “a” pada akhir kata. Kata-kata yang berakhiran dengan huruf mati biasanya diucapkan dengan penekanan, Millens.

Kamu yang tinggal di Keresidenan Banyumasan tentu harus berbangga dengan bahasamu. Semerdu apa pun bahasa lain, bahasa dari budaya sendiri memberi rasa nyaman untuk diri sendiri.

Jadi, jangan ragu menerapkan semboyan, “Ora Ngapak, ora kepenak!” ya. Ha-ha. (IB15/E03)