Jatuh Cinta pada Kamera Analog, Serius atau Sekadar Main-Main?

Jatuh Cinta pada Kamera Analog, Serius atau Sekadar Main-Main?
Contoh beberapa model kamera analog. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Banyaknya tagar 35mm di jejaring sosial menandakan masih banyak yang jatuh cinta pada kamera analog. Kegandrungan itu serius atau sekadar main-main, ya?

Inibaru.id – Awal dari akhir era kamera analog mungkin dimulai saat Nikon, produsen kamera profesional terbesar di dunia, pada awal 2006 memutuskan menghentikan produksi semua model kamera 35mm-nya dan fokus pada produk digital. Sejak itu, dunia fotografi beralih masuk era digital.

Pengguna kamera analog pun beradaptasi. Kamera digital mulai membanjiri pasaran, dari jenis kamera saku berbujet ratusan ribu hingga kamera pro yang dibanderol puluhan juta. Canon, jenama pesaing Nikon, yang resmi menghentikan produksi kamera analog terakhirnya yakni EOS-1V pada 2018 lalu menjadi penegas bahwa era analog seolah akan menjadi sejarah.

Namun, filsuf Jerman Karl Marx yang pernah mengatakan bahwa sejarah akan berulang agaknya nggak salah. Setahun berselang, pengguna kamera analog kembali bermunculan. Bukan sekadar lucu-lucuan, tren itu bahkan dilakukan para fotografer profesional. Kamera analog nggak jadi tamat.

Kemudahan yang ditawarkan teknologi digital pada kamera rupanya nggak begitu saja memuaskan sejumlah orang. Teknologi analog, yang mengharuskan pengguna memakai rol film dan mengokang tiap akan menjepret, belakangan justru begitu digandrungi anak muda.

Senja Kala Kamera Analog

Andika Yogiswara yang akrab disapa Mbahe, penjual sekaligus pehobi kamera analog. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Andika Yogiswara yang akrab disapa Mbahe, penjual sekaligus pehobi kamera analog. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Camera obscura, temuan Ibnu al-Haitsam (Alhazen) pada abad ke-10 menjadi cikal bakal dunia fotografi. Louis Daguerre dengan Joseph Nicepore Niepce kemudian menyempurnakannya pada abad ke-19 dengan menciptakan daguerreotype, jenis kamera praktis yang menjadi awal dari kamera kini.

Seiring dengan penyempurnaan kamera analog, era digital juga mulai tumbuh pada 1975. Kala itu, sebuah kamera digital dengan sensor 0,001 megapiksel ditemukan. Kamera ini membutuhkan waktu sekitar 23 detik untuk memproses sebuah gambar hitam putih.

Namun, perubahan preferensi pengguna kamera dari analog ke digital di Indonesia baru terasa sekitar medio 1990-an. Soetomo, fotografer asal Kota Semarang yang mengikuti perubahan era tersebut mengatakan, masa peralihan ke digital baru benar-benar dirasakannya jelang milenium kedua.

"Saya mulai punya kamera digital pada 1999," ujar Tom, sapaan akrabnya saat dihubungi Inibaru.id via telepon belum lama ini. "Kualitas (kamera digital) saat itu masih jauh di bawah analog, tapi pekerjaan mengharuskan saya bisa beradaptasi dan lebih gesit."

Tomo adalah jurnalis foto senior di Kota Lunpia. Menurutnya, pekerjaan sebagai jurnalis membuat dirinya harus terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan dunia fotografi yang digelutinya, termasuk peralihan kamera dari analog ke digital.

Transisi Panjang yang Pasti

Selongsong roll film yang telah dicuci. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Selongsong roll film yang telah dicuci. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Peralihan dari kamera analog ke digital sejatinya nggak berlangsung secara mendadak. Tomo mengatakan, nggak semua kawannya seadaptif dirinya. Banyak sejawatnya yang enggan beralih ke digital dan memilih bertahan dengan kamera analognya.

"Ending-nya tentu bisa ditebak, yakni berakhir gantung kamera," tukasnya.

Sebagian fotografer yang enggan beralih, lanjut Tomo, adalah mereka yang lebih senior. Menurut dia, waktu itu transisi ke digital memang terlihat ribet karena selain kemampuan memotret dengan alat yang baru, mereka juga harus belajar komputer untuk memproses foto dan keperluan editing.

“Analog itu dasar banget; one shoot, one kill. Beda dengan sekarang yang memory-nya digital; ambil beberapa kali foto dan bisa dipilih,” ungkap lelaki bersahaja tersebut.

Tomo mengatakan, peralihan ke arah digital adalah sebuah keniscayaan, meski transisi itu mungkin memakan waktu lama. Dia meyakini, kamera analog akan tergilas zaman karena kamera digital kini justru terasa jauh lebih mudah dioperasikan.

Apa yang dikatakan Tomo terbukti benar. Kendati nggak benar-benar dimuseumkan, kamera analog nyatanya memang nggak lagi populer. Kalaupun ada orang-orang yang mulai menggandrungi kamera analog, fungsinya nggak lebih dari sekadar hobi, bukan untuk kerja profesional.

Gizka Jati Parama Rizki, misalnya, mengaku menggunakan kamera analog sekadar untuk hobi dan bersenang-senang. Menekuni kamera analog sejak 2015 nggak lantas membuat lelaki yang kerap mengambil job foto pernikahan tersebut menjadikan jenis kamera analog sebagai alat utamanya. 

"Cuma hobi, kok. Paling pas job nikahan kasih bonus foto (yang dipotret) pakai kamera analog," ujar Gizka.

Muncul Lagi dan Menggeliat

Gizka Jati Parama Rizki, penghobi kamera analog yang juga bekerja di Lab cuci dan scan roll film. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Gizka Jati Parama Rizki, penghobi kamera analog yang juga bekerja di Lab cuci dan scan roll film. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Sepengetahuan Gizka, kemunculan pehobi kamera analog di tengah dominasi kamera digital mulai tampak pada 2016. Dia adalah salah seorang di antaranya. Pamornya sempat turun setahun berselang dan terus turun selama 2018-2019, tapi kembali naik sekitar 2020-2021 hingga sekarang.

Sebelum bermain dengan kamera analog, Gizka adalah pengguna kamera digital. Namun, pada 2015 dia "terpaksa" memakai kamera analog karena kamera digital kepunyaannya rusak. Kebetulan waktu itu juga teman-temannya sedang mulai bermain kamera analog.

“Waktu itu 'diracuni' teman. Terus, kamera (digital) sedang ada masalah juga,” cerita lelaki yang selain menjadi fotografer lepas juga bekerja di lab cuci dan scan rol film tersebut. "Eh, sekarang malah keterusan suka analog dan terus tertantang untuk mengulik lebih dalam."

Menurutnya, kamera analog itu ribet, tapi nagih. Dia harus melalui proses panjang untuk mendapatkan hasil maksimal dalam satu jepretan kamera analog. Banyak kegagalan dialaminya, mulai dari film yang terbakar atau nyangkut pas digulung, nggak kejepret, hingga lensa masih tertutup,

Namun, keribetan dan tantangan itu nggak membuat dirinya menyerah, malah penasaran. Menurut dia, hal serupa juga dialami para pehobi kamera analog lain.

“Masing-masing pehobi punya cerita, termasuk pemilihan kamera analognya. Kalau aku lebih suka kamera medium format yang sekalian bagus kualitasnya. Tapi, kalau mau yang praktis dan simpel bisa pakai kamera saku. Selera, sih!” tandas Gizka.

Ya, pilihan kamera, seperti kata Gizka, adalah soal selera, termasuk saat seseorang memilih jatuh cinta lagi pada kamera analog atau sudah move on sepenuhnya ke era digital. Lagian, nggak ada orang yang main-main saat sedang jatuh cinta, sih. Ha-ha. (Kharisma Ghana Tawakal/E03)