Jangan Salah Paham, Keris itu...
Selain keris, ada juga berbagai akik dan barang-barang langka yang turut dipertontonkan pada pameran tersebut. (Inibaru.id/ Sitha Afril)

Jangan Salah Paham, Keris itu...

Minimnya pemahaman soal sejarah keris menjadi senjata para pahlawan pada masa perjuangan melawan Belanda semakin memiringkan citra keris dan lebih sering dianggap mistis. Hal itulah yang kemudian menjadi dasar penyelenggaraan dari pameran edukasi keris di Desa Sukolilo berikut ini!

Inibaru.id – Mungkin banyak orang memandang keris sebagai benda keramat lantaran adanya ritual khusus yang biasanya diadakan untuk keris. Entah itu dijamas atau diarak keliling. Apalagi sejumlah keris diberi nama yang terkesan sangar dan embel-embel adanya "penghuni" di dalamnya. Makin kental deh unsur horor pada keris.

Padahal kalau mau membaca literatur soal keris, kamu bakal menemukan informasi bahwa keris merupakan senjata tradisional yang berjasa bagi Indonesia. Meski kecil dan pendek, keris menjadi senjata andalan para pahlawan dalam mengusir penjajah Belanda. Mereka tetap menggenggam erat kerisnya meski harus beradu dengan bedil.

Senjata ini telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia. Karena itu, sudah seharusnya keris orang Indonesia khususnya Jawa nggak lagi menganggapnya seram. Bagaimana bisa dilestarikan kalau orang memilikinya saja nggak berani.

Pikiran saya soal keris terbuka ketika menghadiri pameran keris dalam rangka menyambut Meron di Desa Sukolilo Pati. Digagas Tosan Aji bekerja sama dengan Kanigoro Pati dan Yayasan Sultan Agung, masyarakat bisa dengan leluasa melihat dan memegang keris yang merupakan koleksi pribadi.

Beberapa keris yang dipamerkan. (Inibaru.id/ Sitha Afril)

"Tidak dapat dipungkiri bahwa sejarah melawan penjajah tidak akan terlepas dari peran keris yang menjadi senjata para pahlawan. Ini yang ingin kami jelaskan pada masyarakat agar stigma mistis dan kemusyrikan yang melekat pada keris itu pupus!” jelas Arifin, penyelenggara, Minggu (10/11).

Saat saya di sana, suasana Gedung Haji Sukolilo nggak terlalu ramai. Hanya tampak sekitar 30-an pengunjung yang berkeliling melihat-lihat keris. Kata panitia, publikasi memang nggak terlalu masif. Sayang sekali, batin saya.

Baca juga: Pameran Keris Semarakkan Tradisi Meron di Desa Sukolilo, Pati

Meskipun panitia mengklaim acara ini untuk menghilangkan stigma negatif keris, situasi jadi lain ketika tercium bau dupa dan kemenyan. Wangi sih tapi... hi! Panitia sukses membuat aura siang itu menjadi sedikit creepy. Sesaat saya pikir ini malah tumpang tindih dengan tujuan acara. Kalau memang mau membersihkan citra mistis keris, harusnya kan pakai pengharum ruangan saja ya. Ha ha

Tapi benar juga, orang-orang ini sangat kejawen. Banyak juga peserta dan pengunjung pameran yang memakai surjan dan blangkon, lo. Saya pikir nggak ada yang salah dengan mempertahankan tradisi. Betul nggak, Millens?  

Suasana pameran keris. (Inibaru.id/ Sitha Afril)

“Saya mendukung kegiatan seperti ini karena bisa menambah wawasan bagi masyarakat, khususnya generasi muda yang kurang begitu memahami nilai filosofi dalam keris dan sejarahnya sebagai senjata pada masa penjajahan," kata Huda, salah seorang pengunjung.

Selain keris, benda-benda lain juga ikut dipamerkan seperti aneka batu dan benda langka. Pengunjung yang memiliki keris yang butuh diperbaiki juga tampak mendatangi venue ini. Ada jasa untuk memperbaiki keris dan bisa ditunggu.

Berkunjung ke pameran ini semakin membuka cakrawala saya tentang senjata tradisional yang satu ini. Soalnya di setiap koleksi yang dipajang, tertera deskripsi singkat dari keris-keris tersebut. Baik nama keris, asal, dan sejarah singkatnya. Keren ya?

Pengunjung juga boleh memegang keris kalau mau. Nggak perlu mengerjakan syarat tertentu. Semoga saja banyak pihak yang mendukung acara seperti ini agar masyarakat lebih paham dan dekat dengan warisan budayanya sendiri. (Sitha Afril/E05)