Jadi Favorit Para Kiai, Begini Kesenian Terbangan di Kudus

Menghibur jiwa, menenteramkan hati, dan merupakan kesukaan para kiai apalagi kalau bukan kesenian terbang Kudus. Berikut ulasan mengenai seni terbangan khas Kudus ini.

Jadi Favorit Para Kiai, Begini Kesenian Terbangan di Kudus
Penampilang penabuh terbangan dalam acara Terbang Kolosal dalam rangka Ta'sis Masjid Al-Aqsha Menara Kudus, Minggu (24/3/2019).

Inibaru.id – Sholla alaikallahu yaa allamal huda. Selawat itu sudah bergaung di telinga saya sejak memasuki area Taman Menara Kudus. Semakin saya mendekati Menara Kudus, semakin lantang pula tetabuhan itu terdengar. Di depan Menara, ratusan orang berjejalan demi melihat aksi para penabuh terbang.

Minggu (24/3/2019) malam itu suasana memang riuh tapi syahdu. Banyak orang yang menyaksikan acara Terbang Kolosal dalam rangka Ta’sis Masjid Al-Aqsha Menara Kudus yang ke-484 menurut penanggalan Hijriah.

Di kaki Menara Kudus, panggung utama berdiri nggak kalah gagahnya dengan bangunan cagar budaya itu. Sebanyak 105 penabuh dari 19 grup terbang berjejer di panggung utama. Dengan menyenandungkan sekitar tujuh selawat dari kitab Al-barzanji, mereka menghibur masyarakat Kudus malam itu.

Sebanyak 105 penabuh terbang memeriahkan acara Terbang Kolosal dalam rangka Ta'sis Masjid Al-Aqsha Menara Kudus. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Yap, saat itu mereka sedang menampilkan salah satu kesenian Kudus yang sudah ada sejak lama. Konon, kesenian khas Kudus ini disukai para kiai atau tokoh agama di sana. Saking senangnya, beberapa tokoh agama memainkannya hingga larut malam.

“Terbangan itu digandrungi para kiai. Bahkan, Pak Kiai Turaichan (Adjuri) dulu itu saking gandrungnya, terbangan sampe malam dianggap mengganggu masyarakat. Hal ini sampai di-bahsul masail-kan (pembahasan dalam rapat dengan merujuk kitab-kitab untuk menentukan hukum suatu hal) gitu, gimana hukumnya,” kata Ketua Yayasan Masjid Menara dan Makan Sunan Kudus (YM3SK) Em Nadjib Hasan.

Kendati sama-sama menggunakan terbang atau rebana, terbangan dan hadrah berbeda, lo. Dilihat dari segi alat yang dipakai, seni terbang ini hanya memakai rebana dan jidur. Sementara, seni hadrah menggunakan alat yang lebih lengkap seperti ada bas, tam, rebana, dan dumbuk.

Perbedaan alat ini juga berpengaruh pada jumlah personel, lo. Seni terbang biasanya dimainkan empat orang penabuh terbang dan seorang penabuh jidur. Karena itulah, seni terbangan juga kerap disebut terbang papat atau terbang yang dimainkan empat orang. Namun, hal ini nggak berlaku pada hadrah yang setidaknya dimainkan delapan orang.

Terbangan dimainkan empat penabuh terbang dan satu penabuh jidur. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Selain itu, pembagian peran antarpersonel juga berbeda. Sambung Nadjib, pada seni terbang, semua penabuh juga berperan sebagai vokalis yang melagukan selawat.

Nggak mau tergerus zaman, YM3SK yang merupakan pengelola Menara Kudus kemudian memasukkan kesenian ini dalam salah satu agenda Ta’sis atau peringatan pendirian Masjid Al-Aqsha Menara Kudus.

“Sekarang ini (terbang kuno) mulai tergerus dengan terbangan model-model baru. Ya sudah kita angkat lah wong kita punya kesenian yang bagus, kok,” imbuh Nadjib.

Betul banget, Millens. Kesenian kuno perlu dilestarikan supaya anak cucumu nanti pun bisa menikmatinya.

Oh iya, kesenian terbang kuno ini memang sudah jarang dipentaskan kecuali di beberapa kampung di Kudus. Namun, terbang ini masih bisa kamu temukan di beberapa agenda yang diadakan YM3SK, kok. Kamu sudah pernah menyaksikan kesenian terbangan belum? (Ida Fitriyah/E05)