Gogoh Iwak, Suka Ria Tangkap Ikan dengan Tangan Kosong di Purworejo

Setelah saluran irigasi Silekor dikeringkan, warga berhamburan masuk ke dalamnya untuk menangkap ikan sebanyak mungkin. Seperti itulah gambaran tradisi Gogoh Iwak di Purworejo.

Gogoh Iwak, Suka Ria Tangkap Ikan dengan Tangan Kosong di Purworejo
Gogoh, salah satu cara menangkap ikan secara tradisional. (yoyonpujiono.blogspot.com)

Inibaru.id –  Ada yang seru lo setiap 1 Agustus di Kelurahan Semawung Daleman, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Ratusan warga beramai-ramai menangkap ikan dengan tangan kosong ketika Balai PSDA Probolo mengeringkan salah satu irigasi di sana.

"Memang menjadi acara tahunan, sebab pasti irigasi akan dikeringkan setiap awal Agustus," ujar Irawan, warga Desa Pekutan Kecamatan Bayan, seperti ditulis Krjogja.com, Rabu (1/8/2018).

Nggak cuma menggunakan tangan kosong, saat mengikuti tradisi Gogoh Iwak beberapa warga bahkan menangkap ikan dengan jala dan seser. Namun, warga dengan tangan kosong lebih banyak mendapat ikan daripada dengan jala. Sebab, katanya, ikan lebih sering bersembunyi di antara sampah dan semak di dasar irigasi yang lebih mudah tergapai oleh tangan.

Boleh Ambil Ikan Sebanyak Mungkin

Di acara Gogoh Iwak ini, peserta nggak dibatasi seberapa banyak boleh mengambil ikan. Irwan bahkan mendapat lebih dari satu kilogram ikan nila, nilem, dan lele. Sementara, warga lainnya mendapat satu hingga tiga kilogram ikan per orang.

Ikan-ikan yang berhasil ditangkap itu boleh dibawa pulang dan dikonsumsi. Bahkan nggak sedikit loh, dari mereka yang menjual ikan-ikannya karena yang diperoleh cukup banyak.

Tradisi Gogoh Iwak merupakan tradisi turun temurun yang sangat positif karena merupakan salah satu wujud dari guyub rukun antarwarga. Ada yang menyebutkan, tradisi ini dilakukan tiga tahun sekali dan bertepatan dengan menjelang panen.

Untuk melaksanakan tradisi ini, dibutuhkan ukuran sungai atau kolam yang digunakan kurang lebih memiliki lebar 20 meter dengan panjang 300 meter. Aliran kali kemudian dibendung, yakni di bagian atasnya menjadi sebuah kolam. Setelah air sudah cukup surut, saat itulah tradisi Gogoh Iwak bisa dilaksanakan.

Wah, seru banget ya Millens! Bisa jadi rekomendasi lomba 17an juga loh. He-he. (IB07/E05)