Gajah Mada, Hayam Wuruk, Lembu Sora; Kenapa Orang Jawa Memakai Nama Binatang?

Gajah Mada, Hayam Wuruk, Lembu Sora; Kenapa Orang Jawa Memakai Nama Binatang?
Zaman dulu, banyak orang Jawa yang menggunakan nama binatang. (GNFI)

Kalau kamu perhatikan, banyak orang Jawa kuno memakai nama binatang untuk namanya, semisal Gajah Mada, Hayam Wuruk, Lembu Sora, dan Kebo Ijo. Kira-kira, kenapa orang Jawa memakai nama binatang, ya?

Inibaru.id – Penamaan ini biasanya banyak ditemukan pada cerita-cerita panji pada karya sastra Jawa zaman dulu. Selain itu, nama binatang untuk menyebut manusia juga bisa kamu temukan pada karya sastra lain seperti Pararaton dan Ranggalawe.

Topik ini sempat disinggung dalam tulisan peneliti dunia sekelas Pigeaud, ahli sastra Jawa dari Belanda. Menurutnya, fenomena penamaan tersebut berkaitan dengan panji (bendera) prajurit yang bergambar binatang. Biasanya, setiap prajurit akan menandai apa yang menjadi miliknya dengan gambar binatang.

“Oleh karena itu, penamaan diri prajurit dengan nama binatang ini juga bersifat heraldic (seni dalam menciptakan dan menghias lambang),” kata Sasongko, ahli epigrafi dari Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia (PAEI).

De Caparis, seorang filolog dari Belanda juga menyepakati temuan Pigeaud ini. Katanya, fenomena penamaan tersebut berkaitan dengan identitas mekasirkasir. Istilah ini berasal dari kata kasir-kasir yang artinya panji-panjian atau bendera.

Dia juga menambahkan, nama depan seseorang yang menggunakan nama binatang seperti Gajah, Menjangan, Macan, dan Tikus, pada era Kediri-Majapahit mengindikasikan golongan kasta ksatria. Bisa juga karena berprofesi sebagai tentara.

Salah satu pendapat menambahkan bahwa titel mekasirkasir pada prasasti di Kediri itu ada karena golongan panji-panjian seseorang ditandai dengan lambang bergambar binatang.

Lalu, dari mana Gajah Mada mendapat namanya? Berdasarkan tulisan Agus Aris Munandar, guru besar UI di bidang arkeologi, pada 2010 silam, nama binatang yang dipakai sebagai nama depan merupakan representasi hewan tunggangan dewa Hindu, yakni Airawata, yang merupakan tunggangan dewa Indra.

Kalau melihat lambang kerajaan Majapahit, kamu bakal menemukan gambar dewa-dewa Hindu. Jadi, pendapat ini cukup masuk akal.

Mayoritas Binatang Penghuni Ekosistem Jawa

Ilustrasi macan Jawa. (kids.nationalgeographic)
Ilustrasi macan Jawa. (kids.nationalgeographic)

Sasongko berkesimpulan bahwa nama hewan yang dipakai sebagai nama diri berasal dari hewan yang menghuni bumi Jawa.

Dalam temuannya, nama binatang yang paling banyak dipakai sebagai nama diri adalah Kebo, Gajah, Gagak, Lembu, Macan, Menjangan, Minda, Banyak, Bandeng, Iwak, Katak, Kuda, Layar, Tikus, Anjing, Asu, Babi, Burung, Hayam, Kadal, Kancil, Kura, Lele, dan Lutung.

 “Menurut saya, ekosistem tampaknya cukup berpengaruh dalam kemunculan fenomena ini,” ujar Sasongko.

Ada juga nama-nama hewan yang terpengaruh dari kebudayaan India seperti Makara, Naga, Sinha, dan Mahisya. Nggak cuma faktor ekosistem, budaya agrikultur yang dijalankan masyarakat Jawa Kuno kala itu juga turut memberi pengaruh. Buktinya, banyak nama seperti Kebo, Sapi, Minda, Lembu, Banyak, Hayam, Babi, dan sebagainya yang dipakai.

Kemunculan nama-nama ini disinyalir muncul dari masa Rakai Pikatan (abad ke-9 M) sampai masa Majapahit akhir atau awal abad ke-16 M. Puncaknya ditemukan pada masa Krtanegara, Kroncaryyadipa, dan Sarwweswara atau dari masa Kadiri pertengahan hingga Singhasari akhir.

“Ini mungkin dapat dihubungkan dengan politik ekspansi atau diplomasi dari Krtanegara. Itu politik perluasan wilayah di luar pulau Jawa atau yang dikenal dengan Cakrawala Mandala Dwipantara yang melibatkan unsur-unsur militer,” lanjut Sasongko.

Motivasi Penamaan

Airawata, gajah tunggangan Dewa Indra. (Wikipedia)
Airawata, gajah tunggangan Dewa Indra. (Wikipedia)

Merujuk pada konsep makna asosiatif Staffan Nystrom, banyaknya nama diri yang berasal dari nama binatang bisa dianggap sebagai gambaran kendaraan dewa, hewan mitologis Hindu-Buddha, atau binatang yang dihormati dalam kebudayaan Jawa Kuno.

“Jadi menurut saya para penyandangnya barangkali meyakini dan mengharapkan kekuatan dari sifat dewa atau hewan mitologi Hindu-Buddha tertentu termanifestasi dalam dirinya melalui penamaan diri dari nama binatang yang berasosiasi,” kata Sasongko.

Pengharapan dan representasi kekuatan tersebut mungkin berlaku pada binatang-binatang sakral bagi orang Jawa. Hewan-hewan tersebut tentu sangat penting seperti Kebo, Hayam, Manjangan, dan Macan.

Dikenal sakti dan dipercaya membawa kekuatan magis, hewan-hewan itu sering dijadikan persembahan untuk menangkal kekuatan jahat. Masyarakat Jawa Kuno juga percaya hewan-hewan itu sebagai penghubung dengan roh leluhur dan dunia atas.

Intinya, secara umum masyarakat menjadikan nama-nama hewan tersebut sebagai nama diri sebagai wujud penghargaan.

“Sebab dianggap memiliki peran penting dalam kebudayaan masyarakat sehingga menempati tempat istimewa di hati pemakainya,” ujarnya.

Keistimewaan itu menurut Sasongko, dipengaruhi oleh keterkaitan hewan itu dengan para dewa, kedudukannya dalam mitologi Hindu-Buddha, sifat teladan yang tergambar dalam fabel-fabel keagamaan, serta perannya dalam kebudayaan masyarakat Jawa Kuno.

“Fenomena tersebut merupakan salah satu bentuk perwujudan apresiasi budaya masyarakat Jawa Kuno terhadap alam sekitar,” ujar Sasongko.

Hm, sekarang sudah paham kan kenapa zaman dulu banyak orang Jawa memakai nama binatang? (Kum/IB21/E03)