Filosofi Pernikahan Jawa: Belajar Kompak dan Hidup Tolong-Menolong Dalam Dulangan

Filosofi Pernikahan Jawa: Belajar Kompak dan Hidup Tolong-Menolong Dalam Dulangan
Dulangan. (Anindawahyu.wordpress)

Siapa yang menganggap suap-suapan sebagai bentuk kasih sayang dalam sebuah hubungan? Ini nggak salah, karena dalam pernikahan adat Jawa, kegiatan itu menjadi salah satu prosesi yang bertujuan agar sejoli selalu rukun dan pengertian.

Inibaru.id – Menikah adalah penyatuan dua ego manusia. Saling rukun dan pengertian tentu menjadi kuncinya. Nah, dalam pernikahan adat Jawa, simbol harapan itu terwujud dalam prosesi saling menyuapi yang dilakukan istri-suami. Prosesi itu akrab disebut dulangan.

Prosesi dulangan umumnya dilakukan setelah tradisi kacar-kucur atau pemberian biji-bijian, uang receh, dan beras kuning, dari suami ke istri sebagai lambang pemenuhan nafkah. Hal ini menyiratkan tanggung jawab suami untuk memberi kecukupan nafkah pada sang istri.

Untuk mengawali dulangan, mempelai terlebih dahulu melakukan prosesi dulangan pungkasan atau suapan terakhir dari orang tua Prosesi mengharukan ini merupakan tanda berakhirnya kewajiban orang tua untuk memberi penghidupan pada anak.

Dulangan pungkasan yang mengharukan. (Weddingku)

Prosesi Dulangan

Untuk melakukan prosesi dulangan, kedua mempelai saling menyuapi makanan dan minuman sebanyak tiga kali. Ini merupakan simbol seksual dan laku memadu kasih antara istri-suami.

Dalam dulangan, makanan yang disuapkan biasanya berupa tumpeng. Tumpeng yang biasanya berjumlah sembilan ini melambangkan nasihat-nasihat adiluhung (tutur adilinuwih). Tumpeng-tumpeng itu di antaranya adalah Tumpeng Kesawa, yang berarti nasihat agar rajin bekerja.

Selanjutnya ada Tumpeng Puput (berani mandiri), Kidang Soka (menjadi besar dari kecil), Bedhah Negara (bersatunya perempuan dan lelaki), Sangga Langit (bakti pada orang tua), Pangruwat (bakti pada mertua), Tunggarana (ingat pada pemberi hidup), Pangapit (suka-duka wewenang Tuhan), dan Manggada (tak ada yang abadi).

Tumpeng menjadi makanan yang digunakan dalam prosesi dulangan. (Alexandra.bridestory)

Makna Dulangan

Pada pernikahan Jawa, dulangan menjadi petuah penting bagi kedua mempelai untuk mengarungi kehidupan berumah tangga, khususnya saat sejoli mengalami konflik yang membutuhkan kedewasaan untuk menyelesaikannya. Dulangan memberi makna, pasangan yang menikah haruslah bekerja sama agar hubungan pernikahan langgeng.

Selain itu, dulangan pun mengisyaratkan kekompakan, sehingga kedua mempelai juga memiliki rasa kebersamaan dan saling berbagi. Ini juga menjadi simbol saling tolong-menolong dan kerukunan, yang diharapkan dapat berlangsung hingga usia senja, bahkan menutup mata.

Dulangan menjadi prosesi yang mengharukan sekaligus menggembirakan. (Storyofvda.blogspot)

Hm, jadi, dulangan bukan sekadar mengumbar kemesraan di muka publik yam Millens. Ada makna mendalam yang terkandung di dalamnya! Ah, jadi bangga memiliki budaya semacam ini! (MG26/E03)