Mengenang Kampung Halaman lewat Festival Bukit Jatiwayang

Mengenang Kampung Halaman lewat Festival Bukit Jatiwayang
Salah satu penampilan di Festival Bukit Jatiwayang berupa ketoprak wayang, Sabtu (25/8/2018). (Inibaru.id/Afriza Ardias)

Budaya merupakan warisan yang berharga bagi suatu daerah. Berkat budaya, masyarakat bisa menelusuri jejak sejarah terbentuknya daerah dan kesenian yang dimiliki.

Inibaru.id – Upaya mengingat kembali sejarah kampung menjadi gagasan utama penyelenggaraan Festival Bukit Jatiwayang pada Sabtu (25/8/2018). Berlangsung di Ngemplak Simongan, Semarang Barat, Kota Semarang, Jawa Tengah, festival ini juga ditujukan untuk merekatkan hubungan masyarakat setempat.

Sebelum menjadi daerah hunian, Bukit Jatiwayang adalah areal pemakaman. Sekitar akhir 1960-an, penggusuran di Citarum membuat mereka datang ke kawasan perbukitan ini. Sejak itu, pemakaman yang umumnya dikenal seram pun beralih menjadi pemukiman padat.

Nah, guna mengenang sejarah keberadaan kampung itulah Festival Bukit Jatiwayang diselenggarakan. Diawali dengan Kirab Budaya yang berlangsung pukul 15.00 WIB, festival dilanjutkan dengan Panggung Rakyat yang dimulai pukul 19.30 WIB.

Panggung Rakyat menjadi ajang duduk bersama bagi masyarakat setempat. Sembari bercengkerama, mereka disuguhi pelbagai pertunjukan seni, mulai tari, musik, pembacaan puisi, hingga pergelaran Ketoprak Jatiwayang.

Pembukaan Festival Bukit Jatiwayang oleh Ketua RW III, Andrian Adi Suryana.

Pembukaan Festival Bukit Jatiwayang oleh Ketua RW III, Andrian Adi Suryana. (Inibaru.id/Afriza Ardias)

Sadar Tradisi

Ketua RW III Jatiwayang Andrian Adi Suryana mengatakan festival ini merupakan upaya warga Jatiwayang dengan Komunitas Hysteria Semarang untuk merekatkan masyarakat sekitar. Acara itu juga dibuat untuk membangun kesadaran mereka terhadap tradisi yang ada, serta upaya merintis komunikasi antarjejaring kampung-kampung perbukitan.

“Ini upaya mengenalkan nilai budaya dan tradisi agar masyarakat sadar, daerahnya punya tradisi yang perlu dijaga dan dilestarikan biar bisa jadi cerita ke anak-cucu,” tuturnya.

Penampilan tari kuda lumping oleh anak-anak Jatiwayang

Penampilan tari kuda lumping oleh anak-anak Jatiwayang, Sabtu (25/8/2018). (Inibaru.id/Afriza Ardias)

Greg, salah seorang penonton, merasa senang dengan acara ini. Mahasiswa Pendidikan bahasa Prancis Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu mengaku sengaja datang ke festival tersebut.

"Acara bagus dan harus diadakan di setiap daerah. Ini benar-benar menggugah minat saya untuk menghidupkan kesenian di daerah asal saya, Ambarawa,” ungkapnya.

Sepakat dengan Greg. Semoga berhasil dengan kampungnya, ya! Dan buat kamu, semoga ikut tergugah dan juga berupaya nguri-uri tradisi kampungmu ya, Millens! Yuk, jadikan kampung kita nggak kampungan! (Afriza Ardias/E03)