Empat Kesenian Tradisional Purbalingga Ini Terancam Punah

Ujungan, Tari Angguk, Tari Dames, dan Braen menjadi kesenian tradisional Purbalingga yang nyaris punah. Seperti apa kesenian tradisional ini?

Empat Kesenian Tradisional Purbalingga Ini Terancam Punah
Ujungan, tradisi minta hujan di musim kemarau (aanprihandaya.com)

Inibaru.id – Tahun lalu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Purbalingga menyebutkan bahwa sedikitnya ada empat kesenian tradisional Purbalingga yang hampir punah. Apa saja?

Ujungan

Ujungan (lokalbanyumas.blogspot.co.id)

Ujungan adalah ritual minta hujan yang berkembang di Purbalingga. Selain di Purbalingga, tradisi ini juga berkembang di Banjarnegara dan Banyumas. Biasanya, ritual ini digelar pada mangsa kapapat atau mangsa kalima (masa keempat atau kelima) saat musim kemarau. Untuk memulai Ujungan, ada wlandang (wasit) yang akan memimpin jalannya pertempuran. Pertempuran ini dimainkan oleh sepasang lelaki dewasa dengan menggunakan sebilah rotan sebagai alat pemukulnya.

Konon, agar hujan segera datang, pemain Ujungan harus memukul lawannya sebanyak mungkin hingga mengeluarkan darah. Semakin banyak darah keluar, semakin cepat pula hujan turun. Menurut pengakuan masyarakat setempat, tradisi ini telah ada sebelum Belanda datang ke Indonesia. Pada tahun 1950, tradisi ini berkembang menjadi ajang pencarian pendekar beladiri. Siapapun yang memenangkan pertarungan ini, maka status sosialnya akan naik.

Yang unik, orang yang menjadi wlandang harus memiliki keterampilan bela diri yang tinggi. Ini dimaksudkan jika suatu saat ada salah satu pemain Ujungan yang nggak puas dengan keputusan wasit dan mencoba melawannya, maka wasit harus berani menerima tantangan tersebut.

Angguk

Angguk (http://banyumasnews.com)

Tari Angguk merupakan kesenian yang bernapaskan Islam. Konon, gerakan mengangguk dianggap sebagai bentuk penghormatan kaum muslim saat mereka saling bertemu. Terdiri atas delapan penari laki-laki, tarian ini diiringi alat musik berupa rebana, beduk, dan kendang. Untuk melengkapi musik, syair-syairnya diambil dari kitab Barzanji.

Delapan penari tersebut dibagi menjadi dua untuk depan (mbarep), empat untuk tengah, dan tengah untuk belakang (buntil). Khusus untuk buntil, penari diperankan oleh anak-anak atau remaja.

Dames

Dames (rri.co.id)

Dames adalah kata yang diambil dari bahasa Belanda yang berarti gadis atau perempuan yang belum menikah. Seperti namanya, tarian ini dimainkan delapan gadis yang menjadi simbol penjuru mata angin.  O, iya, Tari Dames berkembang pada zaman sebelum Kemerdekaan, yakni 1936. Tarian ini dulunya kerap digunakan sebagai media syiar agama Islam.

Sempat vakum, sekitar tahun 1950, seorang dalang bernama Ki Sumareja menghidupkan kembali kesenian ini di Desa Padamara. Sejak itu, elemen-elemen Tari Dames seperti gerakan iringan, tata rias, hingga busana mengalami perkembangan.

Braen

Braen (auralarchipelago.com)

Braen adalah salah satu kesenian tradisional yang sakral dan nggak dimainkan setiap waktu. Kesenian ini hanya dimainkan pada upacara kelahiran, kematian, peringatan meninggalnya seseorang (haul), atau hajatan tertentu. Warga Purbalingga juga menyebutnya seni panyuwunan, atau yang dalam bahasa Indonesia berarti permohonan. Biasanya, Braen dimulai sekitar pukul 22.00 hingga 03.00 dini hari.

Dikutip dari langgamlangitsore.blogspot.com, Braen dibuka oleh seorang penabuh terbang (serupa rebana) yang duduk bersimpuh memangku terbangnya. Sebelum acara dimulai, bagian bawah terbang tersebut dipanaskan terlebih dahulu dengan api agar bunyinya nyaring. Sekitar lima atau enam pemain Braen lainnya juga duduk di samping penabuh terbang. Di depan mereka, disiapkan segala keperluan upacara dan hidangan untuk dikonsumsi.

Syair yang dilantunkan dalam kesenian ini mengisahkan bahwa segala sesuatu bermula dari ketiadaan dan akan kembali pula ke ketiadaan. Manusia diingatkan bahwa hakikat hidup haruslah dibekali dengan segala kebajikan dan kebijakan sebelum mereka meninggal. Meski inti dari syair-syair tersebut mengajarkan tentang keikhlasan, namun nggak sedikit dari masyarakat yang pernah mendengar lirik-lirik tersebut mengaku takut.

Meski nyaris punah, namun pemerintah Purbalingga hingga kini masih berupaya melakukan revitalisasi untuk empat kesenian tersebut. Semoga, dengan revitalisasi ini, minat anak muda Purbalingga untuk melestarikan budayanya bisa tumbuh ya, Millens. (IB15/E02)