Duka Cita Mendalam dan Tradisi Potong Jari Suku Dani

Duka Cita Mendalam dan Tradisi Potong Jari Suku Dani
Iki Palek, ritual potong jari Suku Dani. (Shutterstock)

Ada banyak cara untuk mengekspresikan rasa sedih karena kehilangan orang yang dicintai. Nggak cukup dengan menangis tersedu, masyarakat Suku Dani juga memotong jari dan mengiris daun telinga. Buat kamu yang punya lambung lemah, ada baiknya nggak membaca artikel ini.

Inibaru.id – Bagi Suku Dani di Lembah Baliem, kesedihan karena kehilangan anggota keluarga dibuktikan dengan memotong jari. Yap, mungkin terdengar ngeri, tapi beginilah tradisi bermakna mendalam masyarakat suku ini. Tradisi itu disebut Iki Palek.

Kamu bisa tahu berapa kali seseorang kehilangan keluarga dari sisa jari mereka. Jari menjadi simbol harmoni, persatuan, dan kekuatan. Nggak cuma itu, jari juga menjadi lambang hidup bersama satu keluarga, marga, rumah, suku, nenek moyang, bahasa, sejarah, dan satu asal atau istilahnya “wene opakima dapulik welaikarek mekehasik”.

Filosofisnya begini, bentuk dan panjang jari mempunyai kesatuan serta kekuatan untuk meringankan semua pekerjaan. Dengan kerjasama seluruh jari, tangan akan berfungsi. Ketika salah satu jari hilang, kebersamaan dan kekuatan akan berkurang.

Para laki-laki juga menunjukkan kesedihan dengan cara yang hampir sama, yang disebut Nasu Palek. Namun, yang dipotong bukanlah jari, melainkan kulit telinga. Daun telinga dipotong menggunakan bilah bambu yang tajam.

Prosesi Iki Palek-Nasu Palek

Tradisi Iki Palek dan Nasu Palek dilakukan tanpa ritual, prosesi, atau upacara adat khusus. Untuk kamu yang takut akan darah atau adegan-adegan yang mengerikan, sebaiknya berhentilah di sini, karena proses menjalankan Iki Palek cukup mengerikan.

Biasanya, para perempuan akan menggigit jari mereka sampai putus. Kadang, mereka memotongnya dengan kapak atau pisau. Sebelumnya, jari dililit dengan benang untuk mengurangi darah. Setelah darah berhenti dan jari mati rasa, barulah dipotong.

Luka ini akan dibalut dengan daun selama satu bulan. Dalam kurun waktu tersebut, biasanya luka telah kering dan sembuh. Siapa yang meninggal akan menentukan berapa ruas jari yang harus dipotong.

Jika yang meninggal adalah orang tua, dua ruas jari harus dipotong. Apabila sanak saudara, yang dipotong hanya satu ruas jari. Sebelum dipotong, orang yang melaksanakan tradisi ini membaca mantra tertentu.

Mereka bersedia merasakan sakit yang sangat karena sikap taat dan menghormati leluhur. Rasa cinta dan kebersamaan itu mereka buktikan dengan yang ekstrem. Mereka berharap, dengan memotong jari, kesedihan bisa segera hilang.

Sekarang tradisi ini sudah jarang dilakukan. Tapi kalau kamu ke sana, mungkin masih bisa melihat para perempuan berumur yang jarinya sudah nggak lengkap atau para lelaki yang berkurang daun telinganya.

Selain memotong jari, Suku Dani juga mandi lumpur, Millens. Tradisi itu bermakna bahwa semua yang hidup akan kembali ke tanah. Hm, gimana menurutmu?  (GNFI/IB21/E03)