Dominan Kiri di Dunia yang Sangat 'Kanan', Apa Saja Tantangan Orang Kidal?

Dominan Kiri di Dunia yang Sangat 'Kanan', Apa Saja Tantangan Orang Kidal?
Ilustrasi: Nasib orang kidal di Indonesia yang menganggap tangan kanan lebih baik. (RD/Shutterstock/Itakdaleei)

Di tengah masyarakat yang yang sangat 'kanan', orang dominan kiri tentu saja mengalami banyak kesulitan di Indonesia. Kultur sosial yang menganggap tangan kanan lebih baik dari kiri sudah jadi satu kendala tersendiri. Lalu, apa saja tantangan orang kidal?

Inibaru.id – Menggunakan tangan kiri untuk berjabat tangan dianggap nggak sopan. Bahkan, pada abad pertengahan, orang-orang bertangan kidal kerap dapat masalah karena selalu diasosiasikan sebagai penyihir. Saat itu ada kepercayaan, iblis bertangan kidal dan penyihir mengutuk dengan tangan kiri.

Namun, kini menyoal orang dominan tangan kiri sebagai sosok berbahaya agaknya sudah nggak relevan lagi. Banyak tokoh penting di dunia bertangan kidal, mulai dari Leonardo da Vinci hingga Barack Obama. Kendati demikian, beraktivitas dengan tangan kiri masih dianggap nggak sopan, termasuk di Indonesia. 

Perlu kamu tahu, jumlah orang kidal di seluruh dunia berkisar 10-12 persen. Kebanyakan laki-laki. Namun, di beberapa negara seperti Indonesia, nggak banyak orang tua yang akan membiarkan anaknya kidal dengan melakukan aktivitas memakai anggota tubuh dominan yang dikuasainya itu.

Tangan Kanan Perlambang Kesopanan

Setiap orang punya keunikan masing-masing. Kenapa harus selalu didorong ke sisi yang sama terus? (Theguardian/Alamy/Pink)
Setiap orang punya keunikan masing-masing. Kenapa harus selalu didorong ke sisi yang sama terus? (Theguardian/Alamy/Pink)

Beberapa orang akan dengan keras menyuruh anaknya memakai tangan kanan dengan alasan moral, agama, kesopanan, hingga kultur sosial yang berlaku di lingkungan tersebut. Padahal, ini bukanlah keputusan yang bijak. 

Psikolog Elizabeth Santosa mengatakan, anak kidal yang dominan menggunakan anggota tubuh kiri sebaiknya jangan dipaksa untuk menggunakan tangan kanan. Dia menyarankan, sebaiknya anak nggak dipaksa, karena ditakutkan justru bakal mematikan bakat terpendamnya.

Dia juga menyayangkan pendapat publik yang masih berpikir bahwa tangan kanan lebih baik dari tangan kiri. Ini nggak lepas dari norma dan adat istiadat di Indonesia.

"Tangan kiri masih dianggap sebagai tangan yang kurang sopan," kata dia. “Kita masih percaya tangan kiri itu tangan tidak baik, buat cebok, dan berkonotasi negatif lainnya.”

Harus Dihadapi Orang Kidal

Tangan kiri dianggap kurang sopan untuk norma dan adat istiadat. (Flickr/colleenmorgan)
Tangan kiri dianggap kurang sopan untuk norma dan adat istiadat. (Flickr/colleenmorgan)

Serial kartun The Simpsons yang ngetop pada 1980-an sempat melontarkan kritik melalui sosok Nedward "Ned" Flanders Jr yang mendirikan The Leftorium, yang menjual produk-produk orang kidal. Toko ini mungkin menjadi luapan unek-unek Matt Groening, sang ilustrator, yang juga dominan kiri.  

Yap, bahkan di dunia modern, keberadaan orang kidal sepertinya memang belum bisa setara dengan orang dominan tangan kanan. Kendati sudah diperingati secara global sejak 13 Agustus 1976, ini nggak serta-merta membuat lefties, pengguna tangan kiri, bernapas lega.

Sampai sekarang, mereka masih harus berjuang untuk menyesuaikan diri dengan pelbagai fasilitas publik yang umumnya diperuntukkan bagi pengguna tangan kanan. Apa saja yang harus dihadapi orang kidal di Indonesia?

1. Harus Memodifikasi Barang Tertentu

Beberapa barang yang dimiliki orang dominan tangan kiri biasanya customized, misalnya gitar. Di toko alat musik, gitar yang dijual umumnya default dengan tangkai di kiri yang diperuntukkan bagi pengguna tangan kanan.

Seorang Kurt Cobain, vokalis cum gitaris dan pencipta lagu band grunge Nirvana, mungkin harus lebih dulu memodifikasi gitarnya saat kali pertama belajar musik, karena dia seorang kidal. Jimi Hendrix dan Paul McCartney, dua gitaris kenamaan dunia, sepertinya juga setali tiga uang.

Selain alat musik, beberapa perabot dapur dan stasioneri juga umumnya nggak diperuntukkan bagi orang dominan tangan kiri. Beberapa toko di Indonesia mungkin sudah mulai melihat peluang ini dan mulai menjual perabot khusus left-handed, tapi sepertinya belum banyak.

2. Nggak Leluasa di Muka Umum

Di Indonesia, nggak sedikit orang kidal yang kesulitan makan di tempat umum karena terpaksa memakai tangan kanan untuk memegang sendok atau pisau. Mereka juga kesulitan menulis di depan umum karena nggak memakai tangan kiri. Mungkin mereka bisa, tapi nggak nyaman atau bebas.

Untuk hal-hal seperti kesantunan, beberapa orang kidal barangkali masih bisa melakukan hal-hal yang berkaitan dengan orang lain seperti bersalaman atau menerima dan mengangsurkan barang ke orang lain, meski hal ini benar-benar harus dibiasakan sejak kecil.

3. Kesulitan Mengikuti Aktivitas Fisik

Nggak sedikit anak kidal yang kesulitan mengikuti kelas umum seperti seni atau olahraga yang membutuhkan aktivitas fisik. Laiknya toko alat musik, kelas seni juga umumnya menggunakan alat musik yang disetel "normal".

Pun demikian dengan peralatan olahraga. Beberapa alat seperti busur panah atau senapan umumnya masih diperuntukkan untuk pengguna tangan kanan. Demikian pula dengan stik biliar, pemukul golf, dan sarung tangan bowling.

4. Terkendala Memakai Fasilitas Publik

Gagang pintu biasanya terletak di kiri, karena masyarakat kita umumnya bertangan dominan kanan. Namun, pernahkah kamu membayangkan betapa sulitnya membuka pintu jika gagangnya terletak pada bagian kanan? Sulit? Nah, inilah yang dialami orang kidal.

Itu baru gagang pintu. Masih banyak fasiltas umum lain yang juga nggak left-handed friendly, mulai dari tombol lift, pembuka botol di vending machine, hingga mesin untuk tiket parkir atau tol.

Yap, nggak ada orang yang memilih terlahir dengan dominan tangan kiri atau kanan. Namun, kenapa orang-orang kidal masih dipersekusi, bahkan harus berjuang menyesuaikan diri di lingkungan yang serba "kanan" ini? (Vic/IB09/E03)