Dipercaya Bawa Dampak Buruk, Gunungan di Haul Pandawa Lima dan Meron Dibuat Berbeda
Gerbang Makam Pandawa Lima, leluhur masyarakat Desa Sukolilo yang berlokasi di Dukuh Sanggrahan. (Inibaru.id/Sitha Afril)

Dipercaya Bawa Dampak Buruk, Gunungan di Haul Pandawa Lima dan Meron Dibuat Berbeda

Sehari menjelang tradisi Meron, Dukuh Sanggrahan di Sukolilo memperingati haul Pandawa Lima dengan mengarak gunungan yang mirip dengan Meron. Namun lantaran berisiko menimbulkan perpecahan, gunungan yang dibuat nggak boleh sama.

Inibaru.id – Sebagai anak Pati, saya mengenal Meron sebagai salah satu tradisi dari Desa Sukolilo untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Sekadar cerita nih, sehari sebelum gunungan Meron diarak warga Dukuh Sanggrahan pun memperingati Haul Pandawa Lima dengan mengarak gunungan yang mirip dengan gunungan Meron. Bisa dibilang acara ini merupakan tradisi baru yang diadakan lima tahun terakhir.

Sebelumnya, Haul Pandawa Lima hanya diperingati dengan pengajian, bersih-bersih makam, dan bancakan. Namun, seiring berjalannya waktu, masyarakat sekitar berinisiatif untuk menyelenggarakan arak-arakan sebagai ajang kreativitas sekaligus meningkatkan tali silaturahmi antarwarga.

Nasi dan kuluban (urap) menjadi salah satu ubo rampe yang diperebutkan warga setelah diarak dan didoakan. (Inibaru.id/ Sitha Afril)

O ya, arak-arakan ini dimeriahkan juga dengan pawai antar-RT. Ada juga sesi rebutan ubo rampe yang dilakukan di depan gerbang makam Pandawa Lima. Eits, ini bukan Pandawa Lima yang sama seperti dalam cerita Mahabarata, melainkan sesepuh atau cikal bakal dari masyarakat Sukolilo.

Kebetulan mereka adalah lima lelaki bersaudara berdarah Mataram. Memang Desa Sukolilo ini menjadi salah satu basecamp telik sandi atau mata-mata saat Mataram dan Kadipaten Pati terlibat perang. Duh, panjang ya kalau sudah bahas sejarah, ha-ha.

Gunungan pada haul ini tersusun dari jajan pasar, roti, dan sejenisnya. Ini yang membedakan ronce gunungan tersebut dari gunungan Meron asli. (Inibaru.id/ Sitha Afril)

Meskipun ada dua gunungan yang diarak, satu pada Haul Pandawa Lima dan satu pada Meron, ternyata ronce yang dipakai nggak sama. Masyarakat Dukuh Sanggrahan mengganti ronce yang harusnya terbuat dari beras ketan, dengan roti dan bahan makanan lain. Hal ini dikarenakan oleh adanya larangan untuk menduplikasi bentuk Meron bagi masyarakat umum. Kalau gunungan tersebut dibuat sama persis dengan ronce yang terbuat dari bahan yang sama, dikhawatirkan akan terjadi hal-hal yang nggak diinginkan.

Ini sesuai dengan penjelasan Mulyanto, selaku sesepuh desa sekaligus anggota DPRD Kabupaten Pati saat memberikan sambutan pada acara tersebut. Katanya, “jika ada gunungan meron yang kembar, dikhawatirkan akan terjadi perpecahan antar desa karena itu mengubah aturan leluhur yang sudah dijalankan dari dulu!”

Hm, memang pelik ya Millens kalau ngomongin soal tradisi. Tapi itulah menjadikan sebuah daerah unik. Saya pun belajar untuk nggak men-judge ini logis atau nggak. Tugas saya adalah ikut melestarikan tradisi yang bermanfaat bagi masyarakat sebagai pengingat identitas. (Sitha Afril/E05)