Dibuat dengan Teknik Khusus, Batik Ciprat Khas Purbalingga Laku Ratusan Juta
Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi memegang batik ciprat khas Banyumas. (Purbalingganews)

Dibuat dengan Teknik Khusus, Batik Ciprat Khas Purbalingga Laku Ratusan Juta

Berbeda dengan kebanyakan kain batik yang dibuat dengan teknik tulis, cap, dan print, Kabupaten Purbalingga kini punya teknik membatik ciprat yang unik. Gimana prosesnya ya?

Inibaru.id – Kalau di Jepang ada teknik pewarnaan tie-dye, pengrajin batik di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, juga punya teknik khusus untuk membatik. Mulyono, pembatik asal kota kelahiran Indro Warkop ini mengembangkan teknik batik ciprat, yang dikawinkan dengan teknik tulis.

Berawal dari ide kolaborasinya dengan sang putra, Kurniawan Dwi Hastanto, yang merupakan sarjana seni rupa, batik-batik unik Mulyono diminati pasar. Dia membatik dengan cara menciprat-cipratkan malam menggunakan kuas di kain putih yang sebelumnya sudah diberi pola.

Nggak sembarangan, cipratan itu disesuaikan dengan pola agar membentuk cipratan yang sesuai dengan harapan. Dia juga memadukan teknik itu dengan teknik tulis seperti biasa.

Mulyono memamerkan batik ciprat buatannya kepada Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi. (Purbalingganews)
Mulyono memamerkan batik ciprat buatannya kepada Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi. (Purbalingganews)

Sejumlah motif sudah dia produksi di kediamannya di Desa Karangtalun, Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga. Motif andalannya adalah Wayang dan Candi Borobudur.

Perlu kamu tahu, teknik ciprat sebetulnya bukanlah hal baru di dunia batik. Sejak 2011, gaung batik ciprat sudah kerap terdengar. Sejumlah pihak mengembangkannya, termasuk Mulyono. Yang membedakan, Mulyono menggabungkan ciprat dengan tulis.

Hasil karya Mulyono dijual dengan kisaran harga Rp 250 ribu hinggak Rp 250 juta, tergantung tingkat kesulitannya.

Hm, selamat, Purbalingga! Kalau mampir ke sana, jangan lupa membeli batik khasnya ya! (IB03/E03)