Dibantu Canthang Balung, PB II Berhasil Gusur Lelembut Bawahan Nyi Blorong

Dibantu Canthang Balung, PB II Berhasil Gusur Lelembut Bawahan Nyi Blorong
Arkeolog W.F Stutterheim menyebut pasukan canthang balung merupakan bentuk baru dari pendeta yang berada di barisan terdepan dalam suatu acara keagamaan. (journals.openedition)

Di upacara pernikahan adat Jawa, biasanya dijumpai figur edan-edanan atau canthang balung ketika kedua mempelai berjalan menuju pelaminan. Mereka bermuka putih dan berbusana serba kuning. Siapa sangka, canthang balung pernah membantu Pakubuwono II membersihkan wilayah bakal keraton dari bangsa lelembut yang dipimpin Nyi Blorong dan Uling Putih.

Inibaru.id – Kamu mungkin bakal maklum jika pasukan harus terlihat sangar untuk menciutkan nyali lawannya. Tapi bagaimana jika pasukan itu berpenampilan lucu bahkan absurd? Yap, begitulah penampilan edan-edanan atau canthang balung. Yang dilawan pasukan ini pun bukan bangsa manusia, melainkan makhluk tak kasat mata.

Ternyata, pasukan berpenampilan beginilah yang ditakuti pasukan Uling Putih dan Nyi Blorong. Keduanya merupakan anak buah Nyi Roro Kidul yang ditugasi menjaga wilayah Kedung Lembu, Sala.

Kala itu, Pakubuwono II (1711-1749) berniat membuat keraton baru setelah istananya rusak akibat Geger Pecinan (1740-1743). Sayangnya, wilayah yang dipilihnya berupa tanah rawa dan terkenal angker, seperti yang pernah ditulis GNFI (19/7/2022).

Meski begitu, Pakubuwono II bergeming. Dia bertekad menyelesaikan pembangunan. Baginya, sudah nggak mungkin lagi menjalankan pemerintahan di keraton lama karena pamornya sudah lenyap akibat tragedi berdarah tersebut.

Akhirnya, apa yang dikhawatirkan terjadi. Banyak kesukaran ketika pembangunan keraton baru. Para pekerja kerap mengalami kejang. Mereka percaya bahwa itu merupakan ulah makhluk halus penghuni Kedung Lembu.

Atas anjuran para penasihat raja, penghuni lama wilayah ini harus terlebih dulu digusur dengan upacara khusus jika pengin megaproyek ini sukses.

Canthang Balung Vs Lelembut Nyi Blorong

Pakubuwono II, raja Kesultanan Mataram periode 1726-1749. (Wikimedia Commons via Kompas)
Pakubuwono II, raja Kesultanan Mataram periode 1726-1749. (Wikimedia Commons via Kompas)

Sebenarnya, ratu para lelembut yaitu Nyi Roro Kidul sudah meminta kepada Uling Putih dan Nyi Blorong untuk berpindah tempat. Namun, bangsa lelembut ini sudah keburu diserang pasukan raja sebelum sempat angkat kaki.

Pasukan Pakubuwono II ini lain. Mereka berpakaian aneh dan menabuh beragam alat gamelan. Kegaduhan yang ditimbulkannya cukup membuat para lelembut tunggang-langgang.

Rupanya, di barisan depan pasukan Pakubuwono II ini dipimpin oleh canthang balung. Mereka memakai topi kerucut tinggi, berkain merah, berkalung bunga melati, berikat pinggang sindur, jenggot terurai putih sembari mengacungkan tombak Kyai Slamet.

Lapis kedua ditempati legiun Panyutro. Pasukan ini melumuri tubuh dengan bedak kuning, bercelana dan berbaju kuning pula dengan model terpotong, berikat kepala batik motif bango tolak, serta bersenjatakan panah dan keris.

Sementara itu, di belakang regu Panyutro, ada prajurit Prawirotomo yang berkostum hitam-hitam mulai dari topi hingga celana. Lantas apa sih yang bikin bangsa lelembut keder dengan tiga barisan prajurit ini? Disebutkan mereka takut karena pasukan itu menyerupai prajurit penghibur Nyi Roro Kidul. Wah, nggak nyangka banget ya?

 “Akhirnya, para lelembut itu berhasil digusur. Keraton baru pun dapat berdiri dengan nama Keraton Surakarta Hadiningrat,” tulis Aryono dalam Historia (9/11/2017).

Kedudukan canthang balung dalam sejarah pun mengalami pasang surut, Millens. Usai berjasa mengusir para lelembut di Kedung Lumbu, pasukan ini dijadikan pengawal, penari, hingga penggembira pada masa Pakubuwono X (1866-1939).

Dengan kedudukan seperti badut, para canthang balung memang bertugas membuat lelucon. Nah, mumpung sedang melucu, mereka kerap memasukan unsur-unsur kritik sosial.

“Sebagai abdi dalem kridhastama, cantang balung memang ditugasi untuk membuat lelucon. Sifatnya menghibur, supaya orang yang menyaksikan bisa bergembira,” ujar Dhanang Respati Puguh, sejarawan dari Universitas Diponegoro yang dipaparkan Historia.

Kini, kamu bisa menonton aksi canthang balung pada Grebeg Maulud di Solo dan pernikahan adat Jawa. Ternyata, canthang balung yang lucu ini memiliki sejarah unik ya, Millens? (Siti Zumrokhatun/E07)