Di Kudus, Tebu juga Jadi Pengantin

Bukan cuma manusia, tebu juga bisa jadi pengantin. Nggak percaya? Yuk lihat prosesinya di Kudus, Jawa Tengah.

Di Kudus, Tebu juga Jadi Pengantin
Temanten Tebu di Rendeng, Kudus (antarafoto.com)

Inibaru.id- Perkawinan layaknya dilakukan oleh sepasang manusia. Lalu apa jadinya jika yang menjadi pengantin itu sepasang batang tebu?

Perkawinan antara dua batang tebu ini benar-benar terjadi di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Millens. Masyarakat Kudus menyebut prosesi ini dengan ritus Nggantingi. Bukan tanpa alasan, perkawinan yang merupakan bagian dari prosesi Nggantingi ini dilangsungkan untuk menandai dimulainya musim giling di Pabrik Gula (PG) Rendeng, Kudus.

Prosesi Nggantingi biasanya diadakan pada Mei pada musim panen tebu. Adapun musim giling berlangsung selama Mei hingga November. Nggantingi diikuti oleh para petani tebu, masyarakat sekitar, pemilik, pengelola, dan karyawan pabrik gula.

Mengutip antaranews.com (29/4/2016), prosesi Nggantingi diawali dengan mengarak dua batang tebu yang sudah didandani selayaknya pengantin atau disebut dengan “temanten tebu”. Arak-arakan berlangsung dari kebun tebu hingga ke pabrik gula. Tebu yang menjadi pengantin ini nggak sembarangan, lo. Tebu dengan kualitas terbaiklah yang dipilih. Temanten tebu didandani dengan pakaian dan dirias bak boneka pengantin dan diberi nama. Menarik, kan?

Baca juga:
Ritus-Ritus sebelum Hari Nyepi
Filsafat Hidup dalam Permainan Tradisional Cublak-cublak Suweng

Selain arak-arakan, ada pula kesenian barongan yang mengiringi. Sesampainya di pabrik gula, temanten tebu dan batang-batang tebu lainnya yang dibawa oleh peserta arak-arakan dan dimasukkan ke mesin giling. Prosesi ini mengawali musim giling tebu sekaligus mengakhiri rangkaian prosesi Nggantingi.

Temanten tebu dan prosesi Nggantingi memiliki filosofi tentang kedekatan hubungan antara petani tebu dan pemilik pabrik gula beserta seluruh karyawannya. Selain itu melalui prosesi ini mereka berharap panen tebu akan berlimpah sehingga menghasilkan laba yang banyak pula. Oya, nggak ketinggalan keselamatan para pekerja dan kelancaran musim giling tebu juga menjadi harapan dari prosesi ini.

Perlu kamu tahu, Millens, PG Rendeng Kudus sudah berusia 178 tahun, lo. Pabrik yang merupakan peninggalan Belanda ini dibangun pada 1840 dan sampai sekarang mesin giling yang digunakan untuk menggiling tebu adalah peninggalan Belanda. Kabar baiknya, pemerintah melakukan revitalisasi demi produksi gula yang meningkat. Pada 2017, hasil produksi gula di PG Rendeng Kudus 2.500 ton perhari. Setelah revitalisasi, diharapkan produksi gula meningkat hingga 4.000 ton perhari. Ini merupakan salah satu upaya mendukung Indonesia swasembada gula pada 2019.

Oya, Nggantingi merupakan tradisi turun-menurun meski belum ada sumber pasti mengenai kapan tepatnya tradisi ini dimulai. Namun ini nggak jadi halangan untuk kita terus melestarikan tradisi dong.

Baca juga:
Wujud Keperkasaan dalam Tari Barong Wadon
Menumbuhkan Sportivitas melalui Permainan Betengan

Nah, Sobat Millens tertarik untuk ikut dalam prosesi Nggantingi? Tenang aja, acara ini terbuka untuk umum kok. Kalau pas digelar, datang saja ke Pabrik Gula Rendeng di Jalan Jenderal Sudirman, Rendeng, Kudus, Jawa Tengah. (MAY/SA)