Desa Tulehu dan Tradisi Memasok Pemain Timnas Indonesia

Desa Tulehu dan Tradisi Memasok Pemain Timnas Indonesia
Desa Tulehu rajin menyumbang pemain sepak bola bagi Timnas Indonesia dari generasi ke generasi. (Twitter/indra_sjafri)

Dari segi fasilitas dan infrastruktur, Desa Tulehu di Maluku tentu nggak bisa disamakan dengan ibukota. Lokasinya bahkan jauh dari Kota Ambon. Namun, selalu saja ada pemain Timnas Sepak Bola Indonesia dari desa ini. Apa yang membuat desa ini istimewa? 

Inibaru.id – Tulehu memiliki pantai yang molek dan alam nan indah. Namun, nggak banyak yang mengenal desa yang berlokasi di Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah ini; kecuali lantaran menjadi tanah kelahiran bagi sejumlah pemain sepak bola kenamaan di negeri ini.

Sederet pemain Timnas Indonesia memang tercatat lahir dan besar di desa yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Kota Ambon tersebut. Yang terkini, kita mengenal Alfin Tuasalamony, Rizky Pellu, Abduh Lestaluhu, serta Hendra Bayauw. Dulu, ada nama legendaris seperti Imran Nahumarury.

Meski bukan kota besar, untuk urusan sepakbola, desa ini memang memiliki sejarah panjang dan secara turun-temurun selalu menelurkan pemain baru yang membanggakan nama Indonesia. Setidaknya tiap generasi selalu ada pemain timnas dari desa ini. Keren, bukan?

Kamu mungkin bertanya atau heran, gimana mungkin sebuah desa pesisir yang sepertinya jauh dari fasilitas laiknya ibukota bisa memberikan kontribusi sebesar ini? Datanglah ke Tulehu, niscaya kamu bakal menemukan bahwa hal ini lumrah saja.

Tradisi Sejak Zaman Belanda

Anak muda dari Desa Tulehu melatih kemampuan bermain sepak bola. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)
Anak muda dari Desa Tulehu melatih kemampuan bermain sepak bola. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Bagi warga Tulehu, sepak bola memang telah mendarah daging. Si kulit bundar sudah biasa menemani anak-anak Tulehu sejak kecil. bahkan, sesaat setelah aqiqah, kaki kecil bayi Tulehu bakal ditapakkan ke wadah berisi air, lalu rumput lapangan bola.

Tradisi ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Keharusan menapakkan kaki di rumput ini menjadi kewajiban orang tua di Tulehu untuk tiap anak mereka. Tujuannya, apalagi kalau bukan mengenalkan anak pada sepak bola sejak dini?

Kemudian, tiap kali Hari Raya dan jeda kompetisi, para pebola profesional yang pulang ke Tulehu biasanya akan menggelar turnamen antarkampung (tarkam). Seterkenal apa pun, ketika tiba di tanah kelahirannya, mereka umumnya nggak segan untuk segera membaur dan ikut kompetisi tarkam.

Para pemain yang sudah lebih dulu terkenal ini agaknya memang bertujuan merangsang anak-anak muda Tulehu agar termotivasi untuk mengikuti jejak mereka. Dengan begini, jiwa berkompetisi dan mental juga terbentuk.

Kampung Sepak Bola

Semakin banyak sekolah sepak bola (SSB) di Tulehu. (Kompas/Garry Andrew Lotulung)
Semakin banyak sekolah sepak bola (SSB) di Tulehu. (Kompas/Garry Andrew Lotulung)

Saking rajinnya Tulehu memasok pemain timnas, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bahkan menetapkan desa yang pernah diadaptasi dalam film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku (2014) ini sebagai Kampung Sepak Bola.

Sejak 2012, Tulehu sudah menyandang status tersebut. Imbasnya? Selain mendapatkan bantuan untuk perbaikan lapangan bola desa, kini semakin banyak sekolah sepak bola (SSB) di Tulehu. Dengan faslitas yang cukup mumpuni, SSB ini tentu menjadi tempat yang layak bagi mereka mengasah kemampuan.

Dalam beberapa tahun terakhir, puluhan pemandu bakat dari dalam dan luar negeri silih berganti mendatangi Tulehu untuk mencari bakat-bakat terbaru yang nantinya akan menjadi tulang punggung timnas di masa depan.

Sayang, pandemi Covid-19 membuat sebagian besar aktivitas mereka terhenti. Semoga pandemi segera terkendali dan bola bisa kembali bergulir di rumput Tulehu, biar lebih banyak pemain di sana menghiasi line-up pemain Timnas Indonesia! (Sko/IB09/E03)