Dayung Sam Poo Kong dan Folklor Lisan di Desa Welahan

Dayung Sam Poo Kong dan Folklor Lisan di Desa Welahan
Suasana pasar pagi di depan Hian Thian Siang Tee di Welahan, Jepara. (Isntagram/Muhammad Ariya)

Di Desa Welahan, Kabupaten Jepara, kabarnya ada sebuah dayung milik Sam Poo Kong yang terdampar.

Inibaru.id – Di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, kamu bisa menemukan desa yang juga disebut desa Tionghoa karena di sana banyak warga etnis Tionghoa yang bermukim, yaitu Welahan.

Welahan adalah desa dan merangkap kecamatan dengan sebutan serupa. Letaknya berada di perbatasan antara Kabupaten Jepara dengan Demak.

Selain sebutan desa Tionghoa, di Welahan juga ada sebuah folklor lisan yang masih dipercaya banyak orang, Millens.

Cerita tersebut adalah tentang dayung saudagar asal Tiongkok bernama Sam Poo Kong yang terdampar di Desa Welahan dan juga menjadi dasar penamaan desa ini. Kamu penasaran nggak gimana ceritanya?

Klenteng Hian Thian Siang Tee, peninggalan Tionghoa di Welahan, Jepara yang dinobatkan menjadi klenteng tertua di Indonesia. (Instagram/Jeparahariini)
Klenteng Hian Thian Siang Tee, peninggalan Tionghoa di Welahan, Jepara yang dinobatkan menjadi klenteng tertua di Indonesia. (Instagram/Jeparahariini)

Kisah bermula dari Sam Poo Kong, seorang saudagar Tiongkok yang melakukan perjalanan menuju kediaman Sunan Muria. Menurut cerita, dulu Desa Welahan merupakan teluk yang menjadi jalan berlayarnya para saudagar dan para nelayan yang mau berdagang di Nusantara.

Nah, perjalanan yang cukup jauh ditempuh oleh Sam Poo Kong dengan tujuan bersilaturahmi serta bertukar pikiran dan pengalaman saja. Awalnya kedatangan Sam Poo Kong disambut baik oleh Sunan Muria. Namun sepertinya pertemuan ini nggak berjalan lancar karena di tengah perbincangan situasi memanas.

Katanya, Sunan Muria merasa tersinggung dengan ucapan Sam Poo Kong dan membuat ia marah. Ia bahkan berucap bahwa saat perjalanan pulang nanti, perahu yang ditumpangi saudagar itu bakal mengalami kecelakaan besar.

Karena obrolan yang sudah nggak baik-baik saja ini, Sam Poo Kong memutuskan untuk pulang. Namun, dalam perjalanan pulang sepertinya kata-kata yang diucapkan Sunan Muria menjadi kenyataan. Perahu yang ditumpanginya mengalami kecelakaan, akibatnya kapal milik Sam Poo Kong menjadi hancur berantakan dan mengakibatkan awak kapalnya terpencar.

Menurut cerita yang dipercaya, jangkar kapal Sam Poo Kong terdampar di daerah Rembang, sedangkan layarnya terdampar di Keling, dan dayungnya atau dalam bahasa Jawa disebut welah terlempar hingga ke sebuah sumur di suatu wilayah. Nah wilayah dayung tersebut berada disebut Welahan.

Omong-omong ya, saksi bisu sejarah Desa Welahan ini bisa kamu temukan pada dasar sumur kuno yang letaknya di salah satu rumah warga di kampung pecinan bernama Nyah Pasue. Rumah ini mudah ditemukan karena sang pemilik membuka toko jamu tradisional dengan nama sama; Nyah Pasue yang artinya sumur pusaka.

Bagi sebagian orang yang percaya, sumur ini masih dikeramatkan, bahkan ada yang berkeyakinan air sumur ini bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, lo.

Hm, ternyata cukup menarik ya cerita rakyat di Desa Welahan ini, Millens. (Bud, Jat, Wik/IB32/E05)