Dari Tiada ke Tiada, 11 Tahapan Hidup Manusia Dalam Tembang Macapat

Dari Tiada ke Tiada, 11 Tahapan Hidup Manusia Dalam Tembang Macapat
Tembang Macapat memiliki unsur filosofis yang mendalam yaitu mengenai keberadaan manusia. (Wikimedia)

Macapat merupakan puisi Jawa yang ditembangkan. Berjumlah sebelas, tembang ini berisi perjalanan keramat manusia dari wujud ruh hingga kembali menjadi ruh.

Inibaru.id -  Dalam budaya Jawa dikenal 11 Tembang Macapat, yaitu Maskumambang, Mijil, Sinom, Kinanthi, Asmaradana, Gambuh, Dhandanggula, Durma, Pangkur, Megatruh, dan Pucung. Meskipun berbentuk puisi, Macapat memiliki pakem harus ditembangkan.

Prabu Dewawasesa atau Prabu Banjaran Saru Sigaluh disebut-sebut sebagai pencipta tembang ini pada 1279. Namun, ada pula yang mengatakan kalau nggak cuma satu orang yang menciptakannya. Para wali dan sultan dipercaya juga sebagai penciptanya.

Mengingat tembang ini juga digunakan sebagai sarana dakwah, sepertinya masuk akal juga ya, Millens?

Macapat merupakan produk budaya yang sarat makna. Kamu tahu nggak kalau 11 tembang ini menggambarkan perjalanan keramat manusia dari berwujud ruh hingga kembali menjadi ruh? Yuk, mengingat kembali pelajaran di bangku SMP ini!

1. Maskumambang

Tembang Maskumambang menceritakan manusia ketika masih berada di alam ruh, kemudian ditanamkan dalam rahim seorang ibu. Tembang yang dimaknai “emas terapung” ini memiliki karakter kesedihan dan nelangsa.

2. Mijil

Tembang Mijil berasal dari kata wijil yang artinya keluar. Yap, tembang ini melambangkan bentuk sebuah biji atau benih yang terlahir ke dunia. Pada masa ini, manusia masih membutuhkan perlindungan.

3. Sinom

Bayi yang keluar tadi telah menjelma menjadi pemuda. Tembang Sinom memiliki arti pucuk yang baru tumbuh atau bersemi. Sinom berasal dari kata “enom” atau muda. Tembang ini berisi kesabaran dan keramahtamahan.

4. Kinanthi

Tembang Kinanti berasal dari kata “kanti” yang artinya menggandeng atau menuntun. Kehidupan seorang anak yang masih muda tadi belum bisa dilepaskan orang tuanya. Ia masih memerlukan tuntunan.

5. Asmarandana

Asmarandhana berkisah tentang manusia yang memasuki fase berpasangan. (Inibaru.id/ Triwanda Tirta Aditya)
Asmarandhana berkisah tentang manusia yang memasuki fase berpasangan. (Inibaru.id/ Triwanda Tirta Aditya)

Tembang Asmarandana berisi tentang perjalanan hidup manusia yang memasuki masa memadu cinta kasih bersama pasangan hidup. Gambaran dari tembang ini adalah cinta kasih, asmara, sekaligus juga rasa pilu dan sedih karena rasa cinta.

6. Gambuh

Tembang Gambuh menceritakan manusia saat menemukan pasangan hidup yang cocok, keramah-tamahan, dan persahabatan. Dalam tembang ini juga disinggung mengenai sikap bijaksana, nasihat hidup, persaudaraan, toleransi, dan kebersamaan.

7. Dhandhanggula

Dhandhanggula berasal dari kata dhang-dhang yang berarti berharap. Pada tahapan ini manusia mencapai kemapanan secara sosial, cukup sandang, pangan, dan papan.

8. Durma

Durma berasal dari kata darma. Pola metrum ini menggambarkan bahwa seseorang sedianya harus melakukan sedekah dan berbagi kepada sesama. Sayangnya, manusia lebih banyak sombong, angkuh dan serakah. Durma juga mengandung unsur keberanian dalam perang.

9. Pangkur

Tembang Pangkur berasal dari kata mungkur. Tembang ini menggambarkan kehidupan yang sudah nggak lagi dikuasai hawa nafsu dan angkara murka.

10. Megatruh

Berasal dari kata megat dan roh, tembang Megatruh berarti terlepasnya roh. Perjalanan hidup manusia telah usai. Tembang ini bercerita tentang kesedihan dan kedukaan.

11. Pucung

Tembang Pucung menceritakan kondisi manusia yang sudah meninggal. Namun, ada pula yang mengatakan, pucung berasal dari kudhuping gegodhongan atau kuncup dedaunan yang masih segar. Tembang ini menceritakan hal-hal lucu dan tebak-tebakan.

Hm, gimana menurutmu, Millens? Makna filosofis Tembang Macapat memang nggak kaleng-kaleng kan? (GNFI,Tum,Lip/IB21/E03)