Dari Sudut Pandang Anak Muda Keturunan Tionghoa Semarang, Ini Tradisi Imlek yang Masih Lestari hingga Kini!

Dari Sudut Pandang Anak Muda Keturunan Tionghoa Semarang, Ini Tradisi Imlek yang Masih Lestari hingga Kini!
Ilustrasi makan bersama. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Seperti Idulfitri bagi umat Islam, Taun Baru Imlek selalu jadi momen yang ditunggu warga Tionghoa, termasuk peranakan Tionghoa di Semarang. Hingga kini, beberapa tradisi bahkan masih disambut dengan antusiasme para pemudanya. Hm, apa saja?

Inibaru.id - Bagi Hermawan Honggo dan Maredonna Sutantio, dua pemuda keturunan Tionghoa asak Semarang yang belum lama ini ditemui Inibaru.id di Gedung Rasa Dharma Semarang, Tahun Baru Imlek hingga kini masih punya arti yang cukup mendalam.

Hermawan mengatakan, Imlek adalah momen bertemu keluarga. Baginya, merayakan tahun baru masyarakat Tionghoa itu perlu, karena sebisa mungkin kesempatan mengumpulkan keluarga itu harus terus dilakukan saban tahun.

”Keluarga harus dijaga, jadi sebisa mungkin tiap tahun di-refresh, dikumpulkan lagi agar tetap bersatu,” tuturnya.

Sementara, Maredonna mengungkapkan, Imlek adalah upaya menunjukkan bakti ke orang tua. Baginya, perayaan yang tahun ini jatuh pada 25 Januari itu merupakan ajang untuk silaturahmi ke teman-teman dan saudara.

Menurut keduanya, Imlek yang sarat tradisi juga masih relevan untuk dijalankan, terlebih untuk generasi milenial yang kerap dianggap kacang lupa kulit. Bukan kaleng-kaleng, keduanya bahkan mengaku masih menjalankan segala ritual dalam tradisi Imlek. Apa saja?

Makan Bersama

Tradisi makan bersama biasanya dilakukan pada malam hari sebelum Imlek. Pada momen ini, seluruh keluarga berkumpul dalam satu meja makan untuk menikmati berbagai hidangan khas Imlek yang sarat makna seperti ikan, ayam, babi, sup lobak, dan sayur lainnya.

Hermawan mengungkapkan, saat ini salah satu tradisi makan bersama yang hilang adalah keberadaan meja makan yang superpanjang. Dulu, saat makan bersama, dirinya memang makan bersama keluarga dari neneknya yang punya 13 anak, sehingga butuh meja yang superpanjang

“Rata-rata orang dulu anaknya banyak, jadi waktu jamuan mejanya panjang. Sekarang, anak paling dua, jadi mejanya beda. Ini yang sudah nggak ada,” kenangnya.

Sujud ke Orang Tua

Seperti sungkem, sujud ke orang tua merupakan tradisi yang wajib dilakukan setiap Imlek tiba.

Pada pagi hari, ungkap Dona, setelah mandi dan mengenakan pakaian baru, anak-anak sujud di depan orang tuanya, mengucapkan selamat tahun baru, dan berdoa. 

“Dalam doa biasanya mengucapkan  shen ti ji kang (badannya sehat selalu) dan nien nian you yu (setiap tahun ada kelebihan),” ungkap Dona.

Angpau

Angpau atau bingkisan berisi uang biasanya jadi hal yang selalu ditunggu. Setiap anak bakal mendapat angpau dari orang tua atau keluarga yang lebih tua. Namun, kalau sudah menikah, mereka nggak lagi menerima angpau, malah gantian memberi angpau kepada orang tua dan keponakan.

Berkumpul dengan Keluarga Besar

Setelah berkumpul dengan orang tua, biasanya masyarakat keturunan Tionghoa di Semarang, seperti masyarakat Tionghoa kebanyakan, bakal bersilaturahmi ke rumah keluarga dan berkumpul bersama.

Namun, menurut Dona, yang juga diamini Hermawan, berkumpul dengan keluarga besar kini menjadi semakin praktis. Momen ini biasanya dilakukan dengan berkumpul dan santap bersama  di restoran atau membayar catering untuk makan bersama di rumah.

"Jika ada yang berhalangan hadir, mereka bisa saling ber-video call," tandas Dona.

Indah banget ya tradisi Imlek ini, Millens? Semoga masih banyak anak muda seperti Dona dan Hermawan yang menganggap penting perayaan Imlek ya! (Zulfa Anisah/E03)