Ching Pho Ling Gambarkan Pisowanan Demang kepada Adipati

Ching Pho Ling Gambarkan Pisowanan Demang kepada Adipati
Ching Pho Ling. (Beritapurworejo)

Ching Pho Ling dikenal sebagai tarian yang mencerminkan budaya pisowanan, yakni tradisi demang yang harus melapor ke adipati dengan menempuh perjalanan panjang.

Inibaru.id – Sembilan laki-laki berbaris laiknya iring-iringan pejabat zaman dulu lengkap dengan baju kebesaran mereka. Atribut berupa payung dan pedang disandang beberapa orang, sedang sisanya membawa alat musik. Sembari berjalan, mereka menari.

Itulah gambaran Kesenian Ching Pho Ling, tarian kuno dari Purworejo. Nggak banyak lagi yang mengenal kesenian yang merupakan paduan seni tari dan musik ini.

Zaman ketika kesenian ini masih masyhur, Ching Pho Ling dikenal sebagai tarian yang mencerminkan budaya pisowanan, yakni tradisi demang yang harus melapor ke adipati dengan menempuh perjalanan panjang.

Lantaran menggambarkan kaum priyayi, kostum yang digunakan dalam tarian ini biasanya berupa blangkon, beskap, celana hitam, serta hiasan lainnya. Sementara itu, properti yang mereka gunakan terdiri atas pedang, keris, dan bendera.

Kenapa Ching Pho Ling? Nama ini dipercaya berasal dari singkatan nama tiga orang prajurit atau pengawal Ki Demang, yaitu Buncing, Dipo, dan Keling.

Teori lain, ada pula yang menyebutkan bahwa Ching Pho Ling menggambarkan kejadian saat ada musuh di perjalanan pisowanan. Para Demang menghadapi mereka sampai akhirnya para musuh tersebut lari tunggang-langgang dalam bahasa Jawa “sak pol-pol e” bahkan sampai terkencing-kencing.

Ungkapan itu, entah kenapa, berupah menjadi Ching Pho Ling.

Sementara, ada pula yang mengatakan bahwa nama itu berasal dari bahasa Mandarin, yang berarti perintah untuk menjamin keamanan dan kejahatan.

Entahlah, mana yang benar. Namun, yang pasti, kesenian ini rawan punah. Tentu saja ini menjadi tanggung jawab kita semua untuk melestarikannya. Kamu puny aide gimana caranya? (IB20/E03)