Cerita yang Mulai Memudar tentang Wayang Beber

Cerita yang Mulai Memudar tentang Wayang Beber
Seorang dalang mementaskan wayang beber. (Tempo/Ahmad Rafiq)

Selain wayang kulit, Indonesia juga punya wayang beber. Sejak kapan wayang ini ada?

Inibaru.id – Dibanding wayang kulit, wayang golek, dan wayang orang, wayang beber mungkin nggak cukup familiar di telinga kita. Siapa menyangka wayang ini adalah salah satu yang tertua di Indonesia? Hm, jangan-jangan kamu juga baru mengenalnya?

Kendati nggak ada referensi pasti kapan wayang beber mulai muncul, sejumlah literatur memperkirakan wayang tersebut mulai dikenal pada zaman Kerajaan Jenggala sekitar abad ke-12. Kala itu, wayang beber digambar pada lembaran daun siwalan atau lontar.

Masyarakat diperkirakan baru melukiskan wayang pada dluwang atau kertas dari kayu pada 1244. Kendati masih hitam-putih, lukisan wayang beber sudah disertai pelbagai ornamen.

Pertunjukan wayang beber. (Bejiharjo-karangmojo.desa)
Pertunjukan wayang beber. (Bejiharjo-karangmojo.desa)

Nah, pada zaman Kerajaan Majapahit (1316), di bawah pimpinan Jaka Susuruh, kertas wayang beber mulai dipasangi tongkat kayu pada ujungnya. Ini bertujuan untuk memudahkan dalang menggulung atau membuka kertas. Mereka juga sudah mulai menyebut wayang ini sebagai Wayang Beber.

Pada 1378, Raja Brawijaya V meminta Raden Sungging Prabangkara memodifikasi wayang beber. Kemudian, muncullah tiga set cerita, yakni Panji di Jenggala, Damarwulan, dan Jaka Karebet di Majapahit.

Cerita wayang beber kembali diubah pada zaman Kesultanan Demak (1518). Dengan pengaruh Islam yang kuat, terutama perihal fikih, ilustrasi wayang beber diubah menjadi manusia dan hewan yang dibuat miring. Ini bertujuan agar gambarnya tidak sesuai dengan perangai asli manusia dan hewan.

Tongkat kayu di tiap kanan kiri kertas wayang beber. (Gunkarta)
Tongkat kayu di tiap kanan kiri kertas wayang beber. (Gunkarta)

Pada masa yang sama, Sunan Bonang juga mengembangkan wayang beber dengan menyuguhkan cerita Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji. Para wali juga terinspirasi membuat wayang kulit yang terkenal hingga sekarang.

Lakon wayang beber dirombak ulang pada masa Kerajaan Kartasura yang dipimpin Amangkurat II (1690). Saat itu wayang beber menceritakan lakon Joko Kembang Kuning.

Cerita wayang beber bertambah pada 1735. Waktu itu, nggak hanya lakon Joko Kembang Kuning, pendalang juga menciptakan Rameng Mangunjaya di bawah pimpinan Pakubuwono II di Kartasura. Sayang, perkembangan wayang beber terpecah akibat pemberontakan dari Tiongkok.

Potret warga Indonesia mementaskan wayang beber di depan orang asing. (Gunakarta)
Potret warga Indonesia mementaskan wayang beber di depan orang asing. (Gunakarta)

Keluarga kerajaan lantas membawa perlengkapan pertunjukan wayang beber ke luar istana. Mereka terpecah menjadi dua: sebagian berlari ke Gunungkidul, Yogyakarta, sebagian lainnya ke Karangtalun, Pacitan, Jawa Timur.

Baru Ada pada Abad ke-15?

Meski banyak yang menyebut wayang beber sudah ada sejak abad ke-12, pemerhati budaya tradisi dari Universitas Negeri Surabaya Arif Mustofa mengatakan, wayang beber baru ditemukan pada abad ke-15.

Konon, pergelaran wayang beber dilaksanakan ketika Jaka Tingkir lahir, sekitar 1500-1549. Pertunjukan wayang beber itu digelar sebagai ungkapan rasa syukur orang tua Jaka Tingkir.

Terlepas dari kontroversi kemunculan wayang beber, warga Indonesia patut bersyukur karena masih ada segelintir orang yang melestarikan wayang beber. Mereka adalah Ki Karmanto Hadi Kusumo di Gunungkidul dan Mbah Mardi di Pacitan, Jawa Timur.

Hm, gimana Millens, tertarik untuk menonton pertunjukan wayang tua ini? (IB03/E03)