Cerita Tragis Joko, Mahasiswa Yogyakarta Pelukis Pertama Sunan Kalijaga

Cerita Tragis Joko, Mahasiswa Yogyakarta Pelukis Pertama Sunan Kalijaga
Lukisan pertama Sunan Kalijaga karya Joko, mahasiswa Yogyakarta pada 1970-an. (Historia)

Di antara Sembilan Wali, hanya gambar Sunan Kalijaga yang tampak berbeda. Bukan tampil dengan sorban dan baju putih, Sunan Kaljaga digambarkan dengan blangkon dan surjan. Konon, pelukis pertama, seorang mahasiswa Yogyakarta meninggal akibat kecelakaan usai lukisannya rampung. 

Inibaru.id – Ketika melakukan ziarah, sangat lazim dijumpai penjual lukisan Wali Sanga. Kalau diperhatikan, hanya gambar Sunan Kalijaga yang tampil beda. Ia mengenakan surjan, blangkon, dan berkumis tanpa jenggot, sementara delapan wali lain mengenakan jubah dan sorban.

Kamu sudah tahu belum kalau ada gambar lain Sunan Kalijaga. Gambar yang lebih lama dibuat sekitar 1970-an. Kisah lahirnya gambar ini juga nggak biasa.

Awalnya, Suhadi yang kala itu berusia 102 tahun bermimpi didatangi seseorang yang diyakini Sunan Kalijaga. Lelaki yang tinggal sekitar 40 km dari pusat Kota Demak itu kemudian membuat lukisannya. Lukisan yang dibuat berdasarkan mimpi itu dia tunjukkan kepada R Akhmad Mulyadi. Dia adalah sesepuh sekaligus juru kunci makan dan masjid Sunan Kalijaga.

Mulyadi terperanjat. Wajah dalam lukisan itu benar-benar mirip dengan orang yang hampir sepuluh kali datang dalam mimpinya.

 “Dilakukanlah kompromi apa yang dilihat mereka dalam mimpi adalah wajah Sunan Kalijaga. Kemudian diminta kepada salah seorang mahasiswa Akademi Seni Rupa Yogyakarta untuk membuatkan lukisannya berdasarkan hasil mimpi itu,” tulis Wasif Yafhisam dalam majalah Selecta, No 780, 30 Agustus 1978.

Nasib Malang Sang Pelukis

Lukisan Sunan Kalijaga versi lain yang jamak dijual. (Historia)
Lukisan Sunan Kalijaga versi lain yang jamak dijual. (Historia)

Usai merampungkan lukisannya, Joko, nama pelukis itu mengalami nasib nahas. Dia mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Kemudian, lukisan asli bikinan mahasiswa Yogyakarta itu dipinjam oleh Bardosono, ketua umum PSSI (1975-1977). Sementara Akhmad Mulyadi hanya menyimpan duplikatnya.

Bukan cuma duplikat lukisan Sunan Kalijaga, Akhmad Mulyadi juga menyimpan beberapa peninggalan Sunan Kalijaga lain, seperti Kiai Sirikan dan Kiai Panatas. Kedua merupakan senjata berwujud tombak yang ujungnya terbuat dari emas.

“Lukisan Sunan Kalijaga dipajang di sebuah ruangan dalam rumah sesepuh yang berada di desa Kadilangu,” tulis Wasif.

Wasif juga bercerita jika masyarakat percaya dengan tuah lukisan. Contohnya ketika wartawan hendak mengambil foto lukisan tersebut, seorang pegawai Departemen Agama Kabupaten Demak, yang menemaninya kala itu berulang membisikkan agar membaca bismillah.

Hm, kalau menurutmu gimana, Millens? (His/IB21/E03)