Cepetan Alas Kebumen, Tarian Khas dan Historis yang Semakin Jarang Dimainkan

Tari cepetan alas menceritakan pertarungan manusia dengan makhluk halus. Ada adegan-adegan ekstrem. Namun sayang, tarian ini sudah semakin jarang dimainkan.

Cepetan Alas Kebumen, Tarian Khas dan Historis yang Semakin Jarang Dimainkan
Penari cepetan alas (Youtube.com)

Inibaru.id – Tari Cepetan Alas merupakan salah satu tarian tradisional di Kecamatan Karanggayam, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Tarian ini sangat unik karena menampilkan sendratari dengan seluruh pemainnya menggunakan topeng berbagai karakter. Selain itu, tarian ini juga dibumbui oleh adegan kesurupan dan atraksi-atraksi yang ekstrem. Wah, kenapa bisa sampai kesurupan, ya?

Melansir laman kebumen2013.com (14/06/2012), Cepetan Alas berasal dari kata cepet dan alas. Pengucapan huruf “e” pada kata “cepet” sama seperti mengucapkan kata “bebek”, ya. Jadi, kata cepet yang diucapkan demikian dalam bahasa Jawa berarti salah satu jenis makhluk halus di Jawa. Adapun “alas” yang juga berasal dari bahasa Jawa memiliki arti “hutan”.

Baca juga:
Atraksi Kera Putih dalam Sajian Kethek Ogleng
Ambeng Sewu dan Rasa Syukur Orang Kebumen

Nah, tari Cepetan Alas ini menceritakan peristiwa pembukaan lahan permukiman di Karanggayam. Pada 1943 ketika Jepang berkuasa di Indonesia, warga Karanggayam mengalami penderitaan baik sandang, pangan, dan papan yang luar biasa. Musibah berupa penyakit yang mematikan pun melanda warga di situ. Di samping itu, sektor pertanian sama sekali nggak bisa diandalkan.

Akhirnya sesepuh daerah tersebut memerintahkan untuk bersama-sama membuka hutan untuk lahan permukiman dan pertanian baru. Hutan itu bernama Curug Bandung yang dikenal sangat angker. Bebagai macam makhluk halus (cepet, brekasakan, banaspati, raksasa, dll) mereka hadapi dan pada akhirnya gangguan dari makhluk halus itu dapat diatasi.

Untuk mengusir penjajah agar nggak mengganggu wilayah Karanggayam yang baru, akhirnya mereka berinisiatif untuk menyamar menjadi cepet alas dengan menggunakan topeng. Usaha itu dilakukan untuk menakut-nakuti Jepang.

Dari cerita tersebut, terciptalah tari Cepetan Alas. Pantas saja ya ada adegan kesurupan, karena tarian ini menggambarkan tentang pertarungan antara makhluk halus dengan manusia pada saat pembukaan lahan pemukiman.

Penari cepetan alas ini ada 11-17 orang laki-laki yang memakai topeng dengan 3 karakter. Karakter pertama yaitu manusia (baik), karakter kedua yaitu hewan-hewan (monyet, harimau, dan gajah), karakter ketiga berupa makhluk halus (cepet, bekasakan, banaspati, raksasa, dll).

Baca juga:
Tiga Tari Tradisional Cilacap Bikin Hatimu Kebat-kebit
Jawa dan Sunda Berpadu dalam Tari Jalungmas

Iringan tariannya menggunakan gamelan sederhana dan beduk. Pada saat adegan perang para penari mengalami kesurupan. Adegan inilah yang paling ditunggu oleh para penonton. Pada adegan ini penari melakukan atraksi-atraksi ekstrem seperti berjungkir balik, memakan bunga, menggigit kelapa dan atraksi lain yang membuat kita berkerenyit melihatnya.

Oya, tarian ini sudah sangat jarang dipentaskan. Biasanya tarian ini dipertunjukkan hanya pada acara-acara tertentu saja seperti peringatan Hari Kemerdekaan RI dan hari penting lainnya.

Melestarikan kesenian tradisional memang bukan hal yang mudah ya, Millens. Butuh kesadaran dan kemauan yang besar untuk melakukannya. Semoga kita termasuk generasi muda yang nggak melupakan budaya kita. (IB13/E02)