Bunyikan Lonceng, Ritual Kuil-Kuil di Jepang Sambut Tahun Baru

Bunyikan Lonceng, Ritual Kuil-Kuil di Jepang Sambut Tahun Baru
Pengunjung menyaksikan ritual joya ni kane. (Youtube)

Menjelang tahun baru, kebiasaan buruk harus dienyahkan agar jiwa yang segar mewarnai setahun ke depan. Di Jepang, ritual “pemurnian” ini dilakukan dengan membunyikan lonceng sebanyak 108 kali. Apa maknanya?

Inibaru.id - Malam Tahun Baru selalu disambut meriah di Jepang. Sebagian besar masyarakat Negeri Sakura memilih menyaksikan hitung mundur pergantian tahun dengan keluar rumah bersama teman atau pasangan, salah satunya dengan menonton Joya no kane.

Joya no kane merupakan ritual membunyikan lonceng kuil pada malam tahun baru. Pada malam pergantian tahun itu, lonceng dibunyikan sebanyak 108 kali. Konon, pemukulan lonceng sebanyak 108 kali itu menunjukkan jumlah jenis hawa napsu manusia.

Pada malam itu, lonceng yang dibunyikan menjadi cara orang Jepang menghadapi tahun baru agar lebih segar sekaligus melupakan semua hawa napsu setahun sebelumnya.

Sayang, kendati menjadi tradisi yang telah berlangsung sekian lama, nggak semua kuil menjalankan tradisi tersebut, khususnya untuk sekarang ini. Jumlah kuil yang melaksanakan ritual joya no kane kian berkurang.

Membunyikan lonceng. (Media.sharing-kyoto)

Beberapa kuil yang masih menggelar ritual tersebut di antaranya adalah Shinsen-en. Kuil yang berada di selatan Kastil Nijo, Kyoto, ini didirikan pada 824. Di sana, kamu nggak hanya bakal menyaksikan joya no kane, tapi juga mencicipi mi soba tahun baru yang dibagikan gratis.

 Selain itu, ada juga Kuil Kiyomizu-dera yang merupakan lokawisata populer di Kyoto. Kuil ini biasa mengadakan ritual pemukulan lonceng yang biasanya dimulai 30 menit menjelang pergantian tahun.

Nah, nah, kalau kamu punya waktu dan bujet yang cukup, nggak ada salahnya berkunjung ke kuil-kuil itu ya, Millens! Siapa tahu, dengan begitu kamu bakal benar-benar menghadapi tahun baru tanpa hawa napsu yang merugikan sehingga “lahir” dengan jiwa yang lebih segar! (IB20/E03)