Bukan Kasur, Warga Kampung Ini Justru Terbiasa Tidur di Atas Pasir

Bukan Kasur, Warga Kampung Ini Justru Terbiasa Tidur di Atas Pasir
Tradisi tidur di pasir warga Desa Legung Timur, Sumenep. (FaktualNews)

Di Sumenep, Madura, Jawa Timur, ada sebuah kampung yang warganya memiliki tradisi turun-temurun tidur di atas pasir. Apa nggak kotor ya?

Inibaru.id - Kalau membahas Madura, tentu yang lebih akrab terngiang adalah tentang karapan sapi atau makanan yang khas seperti sate. Namun, tradisi yang ada di Madura ternyata jauh lebih kaya. Sebagai contoh, ada sebuah kampung unik di Pulau Garam yang memiliki tradisi tidur di atas pasir.

Kampung unik itu ada di Desa Legung Timur, Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Madura. Bukan kasur yang nyaman ataupun sofa yang empuk, warga desa tersebut justru memilih tidur beralaskan pasir.

Tradisi tidur di atas pasir ini ternyata sudah menjadi tradisi turun temurun. Bahkan, kebiasaan ini sudah menjadi kearifan lokal tersendiri bagi warga Desa Legung Timur.

Tidur beralas pasir ini bukan berarti mereka nggak mampu beli kasur atau sofa. Warga percaya kalau kebiasaan ini bisa memberikan banyak manfaat bagi kesehatan.

Bukan karena nggak mampu beli kasur, tapi karena punya sejumlah manfaat. (Haqi Achmad/ACI/DetikTravel)
Bukan karena nggak mampu beli kasur, tapi karena punya sejumlah manfaat. (Haqi Achmad/ACI/DetikTravel)

 “Tidur di pasir sudah menjadi tradisi turun-temurun bagi warga di sini selama ratusan tahun. Bahkan masih ada ibu-ibu melahirkan di atas ranjang pasir dengan dukun bayi," ujar Hanafi, salah seorang warga setempat.

Alas pasir nggak hanya untuk tidur saja, namun juga disebarkan di sekeliling rumah untuk bersantai atau sekadar rebahan. Warga pun jarang yang memiliki kursi. Bahkan, banyak warung dan halaman rumah yang dipenuhi dengan pasur di desa tersebut.

Pasir Harus Berasal dari Pantai Lombang

Eits, pasir yang dijadikan alas tidur bukan pasir sembarangan, lo. Menurut keterangan warga, pasir yang diambil haruslah dari Pantai Lombang. Pasir ini warnanya putih kecoklatan dan nggak berbau. Selain itu, teksturnya juga sangat halus dan lembut.

Warga biasanya memilah pasir yang ada di bawah pohon cemara. Sebelum digunakan, pasir diayak dulu menggunakan alat penyaring. Hal ini demi menghilangkan material lain seperti kerikil kecil, sisa cangkang hewan laut, atau kotoran yang menempel.

Memiliki bantal juga sebagaimana kasur biasa. (foto-bocahpetualang.com)
Memiliki bantal juga sebagaimana kasur biasa. (foto-bocahpetualang.com)

Tidur beralas pasir ini dinilai bisa memberikan efek relaksasi sekaligus menyembuhkan penyakit seperti gatal di kulit hingga keluhan nyeri punggung dan rematik.

"Pasir ini seolah menyesuaikan suhu, karena bila cuaca panas, pasir ini tetap terasa sejuk dan nyaman," imbuh Hanafi.

Menariknya, desa beralas pasir ini juga sudah menjadi tempat wisata. Warga pun menyediakan tempat dan bantal apabila kamu mau merasakan sensasi tidur di atas pasir.

Kalau kamu berminat untuk berkunjung, disarankan saat sore hari ya, Millens. Karena waktu itu warga sudah selesai beraktivitas. Kamu pun bisa mendapatkan lebih banyak informasi dari warga terkait dengan tradisi unik ini, deh. (Kum/IB28/E07)