Bubur Sayur Lodeh, Takjil Ramadan di Masjid Kauman Bantul Sejak Abad ke-16

Bubur Sayur Lodeh, Takjil Ramadan di Masjid Kauman Bantul Sejak Abad ke-16
Bubur sayur lodeh khas Masjid Kauman Bantul. (Medcom/MTVN/Patricia)

Ada tradisi unik yang dipertahankan Masjid Kauman Bantul sejak abad ke-16, yakni menyajikan bubur sayur lodeh sebagai takjil. Mengapa yang dipilih adalah bubur sayur lodeh ya?

Inibaru.id – Di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ada masjid yang dibangun pada abad ke-16 bernama Masjid Sabiilurrosyaad atau yang juga dikenal sebagai Masjid Kauman Bantul. Nah, di masjid ini, ada tradisi yang dijaga bertahun-tahun, yakni menyajikan bubur sayur lodeh untuk berbuka puasa selama Ramadan, Millens.

Tradisi ini konon diwariskan oleh Panembahan Bodho, salah seorang murid Sunan Kalijaga. Pada masanya, Panembahan Bodho yang aslinya dari Sidoarjo, Jawa Timur menyebarkan agama Islam di Bantul dan ikut andil membangun masjid ini. Sejak masjid ini berdiri pula, tradisi menyajikan takjil bubur sayur lodeh pun tetap terjaga.

Masjid ini berlokasi di Padukuhan Kauman, Kalurahan Wijirejo, Kapanewon Pandak. Nggak hanya soal usianya yang sudah ratusan tahun, masjid ini memiliki keunikan berupa mustaka dari bahan tanah liat yang kabarnya merupakan peninggalan dari Panembahan Bodho.

Bubur Sayur Lodeh Sudah Disiapkan Sejak Pukul 14.00

Bubur sayur lodeh di Masjid Kauman Bantul sudah disiapkan sejak pukul 14.00 WIB. Pada Jumat (8/4/2022) lalu, terlihat enam orang yang sibuk membuatnya di bagian belakang masjid. Hanya ada satu laki-laki yang terlibat dalam prosesnya, yakni Khasanuddin yang sudah berusia 61 tahun. Dia bertugas untuk mengaduk bubur yang sedang dimasak di dalam sebuah panci berukuran besar agar nggak gosong.

Terdapat panci lainnya yang juga berisi bubur dan diaduk oleh Istimuqadimah. Perempuan berusia 51 tahun ini menjelaskan kalau di dalam setiap panci, terdapat 5 kilogram bubur. Khusus hari Jumat, masjid memang menyediakan bubur sebanyak 10 kg. Beda dengan hari lainnya yang lebih sedikit.

Masjid Kauman Bantul. (Tribun Jogja/ Setya Krisna Sumargo)
Masjid Kauman Bantul. (Tribun Jogja/ Setya Krisna Sumargo)

“(Selain Jumat) lebih sedikit. Cuma satu panci saja. Karena kalau hari bisa hanya untuk warga kampung sini saja. Kalau hari Jumat khusus untuk jemaah masjid sini yang datang dari luar,” ungkap Sri Suwarni yang ikut dalam proses pembuatan bubur, Jumat (8/4).

Di dalam setiap 5 kg beras yang dimasukkan ke dalam panci, ditambahkan 12 sendok garam, santan seember, serta 15 lembar daun salam. Setidaknya, dua panci bubur ini bisa disajikan ke 350 sampai 400 piring bubur.

Oya, selain bubur sayur lodeh, ada lauk lain yang juga disediakan masjid, yakni mi lethek, telur kuah kuning, serta krecek. Kalau minumannya, ada teh manis hangat, Millens.

Sejarah Masjid

Ada dua versi tahun pembangunan masjid. Ada yang menyebutnya sudah ada sejak 1570. Namun, Muhammad Hadi yang menyusun sejarah ringkas pemugaran masjid ini menyebutnya sudah berdiri sejak 1485 atau abad ke-15. Satu hal yang pasti, masjid ini dibangun oleh Raden Trenggono, cucu dari Adipati Terung dari Sidoarjo. Kala itu, Sidoarjo di bawah pemerintahan Majapahit yang diperintah Raja Brawijaya V.

Raden Trenggono nggak mau mewarisi jabatan Adipati Terung. Usai berguru kepada Sunan Kalijaga, dia justru memilih untuk menyebarkan Islam. Karena nggak mau diberi jabatan penting, dia kemudian mendapatkan julukan Panembahan Bodho.

Makna Sajian Bubur Sayur Lodeh Saat berbuka Puasa

Bubur sayur lodeh punya makna untuk dihidangkan saat berbuka puasa. (Rri.co.id/Wahyu Suryo)
Bubur sayur lodeh punya makna untuk dihidangkan saat berbuka puasa. (Rri.co.id/Wahyu Suryo)

Takmir masjid Haryadi menjelaskan makna dari menyajikan bubur sayur lodeh sebagai takjil buka puasa. Dia menyebut bubur bisa dianggap sebagai hal yang bagus.

“Bubur itu dari kata ‘babirin’ yang artinya suatu hal yang bagus. Artinya, jika nanti masuk masjid ini akan disuguhi bubur, itu maknanya akan diberi ajaran atau sesuatu hal yang bagus, yang baik, yakni ajaran agama Islam,” terang Haryadi, Jumat (8/4).

Ada juga makna lain, yakni bubur dianggap bisa memberikan manfaat jauh lebih banyak. Selain itu, bubur yang lembut dianggap cocok dikonsumsi usai perut kosong seharian.

“Misalnya, kalau beras sekilo itu dimasak jadi nasi hanya bisa untuk 10 orang, kalau dibuat jadi bubur kan bisa untuk 25-30 orang. Babar artinya merata untuk semua kalangan,” lanjutnya.

Beda lagi dengan makna sayur lodeh. Kabarnya, setiap kali terjadi peristiwa, dulu pihak Keraton meminta orang yang pengin memahami sesuatu untuk membuat dan makan sayur lodeh dulu.

“Lodeh ini pesannya agar kita perhatian dalam memahami sesuatu, yakni ajaran agama Islam. Makanya, bubur itu materinya apa adanya. Yang penting sayurnya lodeh,” jelasnya.

Wah, tradisi menyajikan bubur sayur lodeh untuk berbuka puasa ini sangat menarik, ya Millens. (Moj/IB09/E05)