Blangkon yang Penuh Filosofi dan Orang Pertama yang Memakainya

Blangkon yang Penuh Filosofi dan Orang Pertama yang Memakainya
Ilustrasi: Blangkon memiliki makna mendalam bagi masyarakat Jawa. (Inibaru.id/ Annisa Dewi)

Kalau kamu jalan-jalan ke Jogja atau Solo, blangkon pasti menjadi hiasan kepala laki-laki yang sangat umum dipakai. Eh, kamu sudah tahu belum sejarah dan makna tersembunyi di balik blangkon? 

Inibaru.id – Bagi orang-orang yang tinggal di Pulau Jawa, blangkon bukanlah benda asing. Meski menjadi pelengkap busana pada masa silam, nyatanya blangkon masih dipakai hingga kini. Kamu akan dengan mudah melihat laki-laki berblangkon saat mengunjungi Yogyakarta atau Solo.

Tapi, pernahkah kamu penasaran, mengapa harus blangkon? Kenapa bukan topi atau hiasan kepala lainnya seperti surban atau peci?

Menukil Krjogja, seorang pembuat blangkon dari Wirobrajan, Yogyakarta, bernama Wagimin Darmo Yuwono mengatakan, blangkon telah mengalami modifikasi. Kini, ada blangkon "instan", padahal dulu orang harus mengikatnya dengan cara yang rumit karena blangkon sebelumnya hanya lembaran kain.

Istilah blangkon kemudian muncul untuk menyebut ikat kepala instan tersebut. Wagimin mengatakan, blangkon berasal dari kata "blangko". Lelaki yang telah 40 tahun menjadi pengrajin blangkon ini mengungkapkan, istilah blangko dipakai masyarakat Jawa untuk mengatakan sesuatu yang siap pakai.

Keistimewaan Blangkon

Mondolan bulat pada blangkon Jogja. (infonyajogja.blogspot) 
Mondolan bulat pada blangkon Jogja. (infonyajogja.blogspot) 

Jika kamu perhatikan, bentuk blangkon memang spesial. Terdapat lipatan melingkar yang menutupi kepala pemakai. Pada bagian belakang juga terdapat mondolan atau bulatan.

Eits, ada makna filosofis yang cukup dalam lo dari sebuah blangkon. Mungkin banyak yang nggak menyadari kalau jumlah lipatan yang menutupi kepala sebanyak 17. Jumlah ini menandakan 17 rakaat dalam salat 5 waktu.

Mondolan yang ada pada bagian belakang juga bukan sekadar lucu-lucuan. Ia mencegah sang pemakai dari tidur.

Pembuat blangkon harus memastikan letak mondolan berada di tengah dan lurus ke atas, yang bermakna agar senantiasa lurus terhadap sang pencipta. Garis besarnya, mondolan adalah pengingat agar pemakainya nggak menutup mata terhadap yang Mahakuasa serta selalu lurus menjalankan perintah-Nya.

Eh, bukan cuma itu. Di samping mondolan ada sisa kain berjumlah 6 yang berarti rukun Iman dalam ajaran Islam.

Awal Mula Blangkon Dipakai

Mondolan trepes jadi ciri khas blangkon Solo. (Tribunsolo/Bayu Ardi Isnanto)
Mondolan trepes jadi ciri khas blangkon Solo. (Tribunsolo/Bayu Ardi Isnanto)

Kamu mungkin bingung kenapa makna blangkon begitu islami? Bukankah blangkon seharusnya identik dengan masyarakat Jawa? Konon, hal ini berkaitan dengan sejarah awal mula blangkon dipakai, Millens.

Jadi, sesepuh keluarga keraton Mataram yakni Ki Ageng Giring adalah pencetus blangkon. Saat itu para penyebar agama Islam di Jawa berambut panjang tapi enggan memotongnya. Mereka merasa akan mengingkari sang Kuasa dengan memotong rambut yang dianggap anugerah.

Karena itu, Ki Ageng Giring mencetuskan untuk menutup rambut dengan ikat kepala. Inilah cikal bakal blangkon. Mondolan yang ada pada bagian belakang merupakan wujud rambut yang digelung membentuk bulatan.

Nggak semua bentuk mondolan bulat, lo. Di Solo, bentuknya sedikit gepeng. Hal ini karena orang-orang Islam dan pergi ke Solo telah memotong rambut. Mereka tetap memakai ikat kepala karena sudah membudaya. Hanya, nggak ada lagi rambut yang perlu digulung dan menghasilkan mondolan bulat.

Jadi begitu ya, seluk beluk blangkon termasuk rahasia di dalamnya. Kamu ada informasi tambahan lain soal blangkon nggak nih, Millens? (IB21/E03)