Biasa Terjadi, ‘Perang’ Antar-Istri Raja Berebut Cinta dan Singgasana

Biasa Terjadi, ‘Perang’ Antar-Istri Raja Berebut Cinta dan Singgasana
Pakubuwono IV memiliki dua permaisuri dan 25 garwa ampeyan. (Islami.co)

Menjadi istri raja nggak membuat perempuan-perempuan ini hidup nyaman. Mereka harus berjuang dan bersaing dengan pendamping lainnya agar mendapat kasih sayang lebih dari raja. Para permaisuri juga harus saling sikut untuk menempatkan putranya sebagai raja berikutnya.

Inibaru.id – Zaman dulu, raja Jawa Tengah di bagian selatan biasa mempunyai empat istri resmi atau garwa padmi. Pun, nggak aneh jika para raja ini juga memiliki istri nggak resmi yaitu selir atau garwa ampeyan. Banyaknya pendamping yang dimiliki raja membuat keturunannya juga nggak sedikit.

Di Surakarta, Pakubuwono IV dikaruniai 56 anak dari dua permaisurinya dan ada lebih dari 25 garwa ampeyan; sedangkan di Yogyakarta (pada periode yang sama), Hamengkubuwono II punya setidaknya 80 anak dari tiga garwa padmi. Sementara, dia juga punya 30 selir.

Lalu, bagaimana para raja ini mengatur “jatah” untuk para pendampingnya? JW Winter, penerjemah resmi di Surakarta menceritakan bagaimana Sunan Pakubuwono V (1820-1823) biasanya tidur pada malam hari dengan para garwa padmi. Pada siang harinya, dia tidur dengan selir.

Tingkatan Selir

Ternyata nggak semua selir raja berada pada tingkatan yang sama, lo. Ada yang digolongkan sebagai selir utama. Biasanya, mereka merupakan anak-anak perempuan priayi utama atau pangeran dan bangsawan berdarah biru. Karena tergolong istimewa, mereka nggak boleh melangkah keluar istana, termasuk menemani raja bepergian seperti abdi dalem priayi manggung atau prajurit éstri.

Ada juga yang tergolong selir kelas dua. Kelompok ini lebih heterogen seperti penari Serimpi dari keluarga bangsawan golongan atas. Tentu saja, hampir semua adalah kerabat dekat raja. Banyak pula selir kelas dua yang dipilih sebagai istri nggak resmi lantaran kecantikan dan daya tarik seksualnya.

Sejarawan Peter Carey menyebut, memiliki banyak macam perempuan yang menghuni  Keputren adalah  kebanggaan beberapa raja Jawa Tengah selatan pada abad ke-19 atas kekuatan seksual mereka. Sebagai contoh, Mangkunegoro V (1881-1896) yang terkenal gemar main perempuan. Dia diduga sampai menginstruksikan abdi dalem istana Mangkunegaran ke Paris, Perancis untuk menghadiri Pameran Universal pada 1889. Konon, utusan ini kembali dengan membawa dua PSK kelas atas ke Surakarta untuk dijadikan selirnya.

“Sayangnya tak ada referensi atas selir berkebangsaan Prancis itu dalam silsilah Mangkunegaran yang disusun ahli genealogi Mangkunegaran,” kata Carey.

Carey juga menyebut di antara para istri raja, selalu ada persaingan sengit, terutama di antara permaisuri mengenai pengganti raja. Mereka ingin anak merekalah yang ditunjuk sebagai putra mahkota untuk menggantikan raja.

“Suatu ambisi yang sering mengadu domba keluarga raja,” kata Carey.

Yang namanya adu domba sudah pasti akan dihiasi pertumpahan darah. Nggak jarang orang-orang yang dianggap memberontak akan mati beserta keluarganya.

Sejarawan ini kemudian menyebutkan contoh pada masa pemerintahan Sultan Kedua. Sempat terjadi perseteruan tiga permaisuri yakni Ratu Kedaton sebagai ibu putra mahkota; Ratu Mas, putri Pangeran Pakuningrat (Mataram); dan Ratu Alit, anak Pakubuwono II dan ibu Pangeran Mangkudiningrat II.

Pada akhirnya, Ratu Alit atau Ratu Kencono Wulan yang keluar sebagai pemenang. Dia memang dikenal paling tangguh di antara para permaisuri. Bersekongkol dengan Raden Tumenggung Notodiningrat, dia membawa anak menantunya itu menjadi putra mahkota. Setelah dilantik, dia menjadi Raja Putro Narendro dengan gelar Hamengkubuwono III.

Serem juga ya, Millens, kalau rebutan singgasananya dengan cara kotor. (His/IB21/E03)