Berusia Seabad, Rumah Kuno di Semarang Ini Dihuni 70 Keluarga

Berusia Seabad, Rumah Kuno di Semarang Ini Dihuni 70 Keluarga
Rumah tampak dari luar. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Terletak nggak jauh dari Masjid Kauman Semarang, rumah yang berusia lebih dari seabad ini dikenal dengan Rumah 100 Kepala Keluarga. Gimana sih kisah dari rumah unik yang satu ini?

Inibaru.id - Sabtu siang itu kebetulan cuaca cerah, saya menepikan kendaraan di depan rumah dua lantai yang hampir nggak punya halaman. Ya, rumah tua nan kusam yang saya kunjungi ini konon dihuni oleh 100 kepala keluarga. Letaknya nggak jauh dari Masjid Agung Kauman, tepatnya ada di dalam Kampung Jajan, Kauman Bangunharjo No. 391.

Rumah ini langsung menghadap ke gang yang hanya muat untuk dilewati satu motor. Ini juga yang bikin saya kesulitan memarkirkan kendaraan.

Nggak seramai yang saya bayangankan, di dalam rumah cuma ada tiga penghuni pria dan satu anak lelaki. Sementara 2 perempuan tengah sibuk memasak di dapur. Beberapa amben besar mendominasi ruangan di lantai dasar. Mustofa yang kala itu sedang bersantai di sudut lain bangkit dari tempat duduk dan menemui saya.

Potret H. Sahly. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)<br>
Potret H. Sahly. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

“Saya cucu mantu dari H. Sahly” kata lelaki 40 tahun ini.

H. Sahly yang merupakan kyai tersohor pada masa itu. Meski bukan keturunan asli, Mustofa bisa menjelaskan dengan gamblang mengenai rumah unik yang satu ini.

Mustofa bercerita kalau kiai asal Semarang ini mempunyai banyak keturunan dari tujuh perempuan yang dinikahinya. Saat ini ada 70-an keluarga yang tinggal dalam satu rumah. Semuanya merupakan keluarga dari cucu dan cicit H. Sahly.

“Kurang lebih kalau dikumpulkan ya sekian (100 KK), namun yang tersensus selama ini (tinggal di sini) ya 70-an KK,” tutur Mustofa.

Pembagian Ruangan

Nampak dalam bangunan rumah. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)<br>
Nampak dalam bangunan rumah. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Penasaran dengan pembagian ruangan di rumah ini, penghuni yang lain, Muhammad Amhar yang merupakan cucu H. Sahly mengatakan ada banyak kamar di rumah ini.

“Di dalam banyak sekali kamar. Di bawah ada 5, di sana ada 10, di atas ada 8,” tutur lelaki 57 tahun ini.

Yap, menurut penghuninya, semua keluarga di sini punya kamar tidur, dapur bahkan kamar mandi sendiri lo. Ada pula kamar mandi dengan kulah (bak mandi besar) yang diperuntukkan bagi tamu yang datang untuk mengaji.

Rasa penasaran saya kian bertambah untuk melihat langsung ruangan-ruangan tadi. Sayangnya saya cuma dipersilakan untuk melihat ruang tamu. Jadi wajar jika saya menyangsikan apa yang dikatakan Mustofa dan Amhar. He

Mengikuti Sunah Rasul

Cucu dan cicit H. Sahly yang berprofesi sebagai pedagang. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)<br>
Cucu dan cicit H. Sahly yang berprofesi sebagai pedagang. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Banyaknya keluarga yang tinggal di rumah tersebut bikin saya nggak habis pikir. Ternyata hal ini sudah terjadi dari terjadi saat nenek moyang mereka, H. Sahly menikah dan mendirikan rumah ini sekitar tahun 1901-1902.

Menurut Mustofa, kakek mertuanya tersebut benar-benar totalitas dalam menjalankan sunah rasul dengan memiliki banyak istri hingga tujuh orang.

“Benar punya istri tujuh, tapi bukan langsung beristri tujuh. Awalnya empat, jika meninggal baru cari gantinya,” terang Mustofa.

Kini, sangking ramainya penguni dari bangunan berlantai dua ini, warga sekitar menyebutnya dengan sebutan kerajaan. Kini mayoritas cucu dan cicit H. Sahly berprofesi sebagai pedagang.

Karena nggak diperbolehkan berkeliling, salah satu yang meyakinkan saya akan banyaknya anggota keluarga di sini adalah banyaknya amben yang konon digunakan ketika kumpul keluarga dan salat berjamaah.

Kamu sendiri penasaran nggak dengan rumah unik yang satu ini, Millens? (Zulfa Anisah/E05)