Berasal dari Alam 'Bidadari', Tayub Masih Lestari di Kabupaten Wonogiri

Untuk memeriahkan acara Bersih Desa, Kabupaten Wonogiri biasanya menggelar pertunjukan Tayub. Kesenian ini nggak hanya menjadikan suasana kian meriah, tapi juga menyatukan kalangan dari segala usia. Sudah pernahkah kamu menonton kesenian ini?

Berasal dari Alam
Tayub menarik minat wisatawan internasional juga, lo. (Mistik Indonesia)

Inibaru.id – Kabupaten Wonogiri di Jawa Tengah merupakan salah satu daerah yang menjadi tempat berkembangnya kesenian Tayub. Kesenian ini biasanya menjadi pengisi acara syukuran usai panen yang disebut Bersih Desa.

Seperti beberapa kesenian lainnya, tayub nggak lepas pula dari legenda. Ada yang menyebutkan bahwa tarian ini berasal dari alam para bidadari. Para bidadari menari dengan gerakan yang teratur (nayub) sehingga lahirlah istilah “tayub”.

Gerakan-gerakan ini nggak jarang jadi gerakan erotis yang membuat penonton menganggap tayub nggak ubahnya pelacuran terselubung. Nggak heran juga jika kesenian ini semula digelar pada malam hari supaya hanya bisa dinikmati penonton dewasa.

http://radarsemarang.com/wp-content/uploads/2017/08/boks-merti-dusun_rsz.jpg

Tayub kerap dihadirkan sebagai hiburan dalam ritual Bersih Desa di Kabupaten Wonogiri. (Radar Semarang)

Di Kecamatan Slogohimo, tayub masih bertahan hingga sekarang. Meski begitu, terdapat beberapa perubahan supaya tarian ini bisa dinikmati penonton dari segala usia.

Jika dulu para ledhek menggunakan kemben dan kain panjang, kini busana mereka lebih tertutup. Nggak hanya pakaian yang lebih tertutup, para ledhek juga dibuatkan panggung supaya ada jarak dengan penonton.

O ya, selama menonton, penonton juga nggak diperbolehkan membawa minuman keras, lo. Para seniman tayub memang berupaya untuk mereduksi citra negatif yang kerap disematkan pada kesenian ini. Dengan upaya tersebut, mereka juga berusaha menarik minat anak muda agar ikut melestarikan tayub.

Semoga dengan upaya-upaya tersebut, tayub semakin disukai anak muda dan jadi salah satu kesenian Indonesia yang mendunia ya, Millens! (IB15/E03)