Bentikan, <em>Mabar</em> Generasi Awal Milenial yang Nggak Kalah Mengasyikkan
Ilustrasi permainan bentikan. (Dictio)

Bentikan, Mabar Generasi Awal Milenial yang Nggak Kalah Mengasyikkan

Keseruan mabar gim-gim daring mungkin sedang digandrungi oleh berbagai kalangan saat ini. Namun, sekitar satu atau dua dekade lalu, mabar dolanan tradisional yang dilakukan generasi awal milenial juga nggak kalah seru dan mengasyikkan, salah satunya main bentikan. Seberapa seru?

Inibaru.id Mabar, istilah yang ngetren di kalangan gamers untuk ngegim bareng, mungkin kini menjadi satu hal yang lazim kamu temukan di ruang publik, khususnya yang menyediakan wi-fi gratis. Mereka bermain bersama, tapi berinteraksi di layar kaca.

Keadaan ini berbeda satu atau dua dekade silam. Anak-anak hingga remaja bermain bersama dan saling berinteraksi di dunia nyata dengan dolanan tradisional. Ini tentu jauh lebih seru ketimbang bermain gawai, kendati sama-sama berinteraksi.

Generasi milenial barangkali bakal sepakat menyatakan bahwa dolanan tradisional jauh lebih seru. Di Semarang, Jawa Tengah, misalnya, anak-anak hingga remaja kala itu mengenal bentikan. Mereka biasa mabar di tanah lapang pada sore hari hingga menjelang malam.

Sekelompok anak sedang bermain benthikan. (permainantradisionalindonesia.blogspot.com)

Bentikan adalah permainan luar ruangan yang dilakukan berkelompok. Permainan yang juga disebut gatrik atau tak kadal itu dimainkan dua kubu, yang bisa dimainkan 3-4 orang per kelompok.

Untuk bermain bentikan, kamu membutuhkan lahan yang luas seperti lapangan. Gawai yang digunakan adalah dua batang kayu pendek dan satu yang panjang, bisa menggunakan bekas gagang sapu atau ranting pohon dengan diameter yang bisa digenggam tangan. Mudah, bukan?

Cara Bermain Bentikan

Bermain bentikan nggak sulit kok, Millens. Namun, untuk memainkannya, kamu butuh strategi, konsentrasi, dan kerja sama kelompok.

Permainan bentikan akan diawali dengan suit. Kelompok yang menang akan mendapat giliran untuk bermain, sementara yang kalah bertugas menjaga. Jika sudah, saatnya bermain!

Untuk mengawali permainan, satu kayu pendek diletakkan di antara celah dua batu bata, sedangkan kayu pendek lainnya diletakkan ngetril untuk dipukul. Nah, kayu panjang berfungsi untuk memukul ujung atas kayu pendek agar terpelanting.

Kelompok lawan yang berjaga harus sigap menangkap kayu pendek tersebut dan melemparkannya ke kayu pendek di atas batu bata. Dia berhak untuk melempar kayu tepat dari tempatnya berada.

Kalau lemparan mengenai sasaran, kelompok lawan akan gantian bermain. Namun, jika gagal, tim yang sedang bermainlah yang akan mendapatkan poin.

Ilustrasi posisi bersiap melempar kayu. (Mintobasuki.wordpress)

Kalau kelompok lawan nggak berhasil menangkap kayu pendek, mereka tetap berkesempatan untuk melempar kayu tersebut dari tempat kayu itu jatuh ke arah batu bata, meski tentu saja bakal lebih sulit lantaran jatuhnya kayu dipastikan lebih jauh ketimbang kalau ditangkap.

Oya, selain di Semarang, bentikan juga dimainkan di sejumlah wilayah di Jawa, dengan nama dan aturan yang berbeda. Namun, aturannya sama: bersenang-senang bersama! Ha-ha.

Yap, dalam bermain bentikan, memang nggak ada kompetisi. Tujuan permainan itu hanyalah mengisi waktu senggang, bukan menang atau kalah. Hal terpenting dalam permainan itu adalah interaksi sosial. Hm, tertarik mabar bentikan? (IB10/E03)