Benarkah Ada Keberkahan dalam Hujan saat Imlek?

Konon, Imlek harus dibarengi dengan hujan, karena jika tidak, rezeki warga Tionghoa bakal macet. Benarkah demikian, atau ini semua cuma mitos?

Benarkah Ada Keberkahan dalam Hujan saat Imlek?
Masyarakat Birmingham menikmati penampilang barongsai di tengah hujan saat perayaan Tahun Baru Imlek di sekitar Birmingham's Arcadian Centre, Birmingham, Inggris, Februari 2013. (Birminghammail)

Inibaru.id – Hujan dan Tahun Baru Imlek seakan menjadi dua hal yang nggak bisa dipisahkan. Masyarakat Tionghoa memercayai, turunnya hujan menandakan keberkahan. Semakin lebat hujan membasahi bumi, kian besar pula rezeki yang bakal mereka dapatkan selama setahun nanti.

Konon, kepercayaan itu berkaitan dengan masa tanam di Tiongkok yang biasanya dimulai setelah tahun baru, tepatnya pascahari ke-15 mereka berpesta, yang acap disebut cap go meh. Hujan tentu menjadi berkah bagi petani, karena itulah mereka menganggap hujan sebagai pembawa berkah.

Sobat Millens pasti tahu perayaan Imlek adalah tradisi yang telah berlangsung ribuan tahun silam. Bagi masyarakat Tionghoa, perayaan tersebut menjadi yang paling meriah dan megah. Ini berkaitan erat dengan Nian atau makhluk yang dipercaya selalu datang saat musim dingin.

Nian adalah sosok makhluk legenda di Tiongkok yang konon mendasari perayaan Tahun Baru Imlek. (Zbrushcentral)

Dulu, sebagian besar penduduk Tiongkok adalah petani yang mulai menanam selama musim semi. Pada musim gugur, mereka memanen padi, lalu menyimpannya untuk menghadapi musim dingin.

Musim dingin selalu mencekam karena kecemasan didatangi Nian yang digambarkan seperti sosok besar pemakan manusia yang keluar dari dasar lautan tiap 365 hari atau bertepatan dengan chu xi alias malam tahun baru Imlek. Mereka yang lolos dari maut, esoknya bakal bersyukur dengan mengucapkan, “Gong xi! Gong xi!

Singkat cerita, Nian yang berarti “tahun”, berhasil dikalahkan dengan warna merah, bunyi-bunyian yang keras, dan cahaya terang. Nah, dari situlah tradisi tersebut menjadi perayaan Imlek yang terus dilestarikan hingga kini.

Imlek dan Hujan

Namun, seperti ditulis Cnnindonesia.com (16/2/2018), Spiritualis Suhu Naga mengatakan, Imlek merupakan bentuk pesta syukur musim panen yang biasanya ditandai dengan turunnya hujan. Namun, sebenarnya nggak ada tolok ukur berkah dalam hujan yang turun tersebut.

Sementara itu, masih menurut laman yang sama, Dosen Bahasa Mandarin Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rizky Wardhani mengaitkan kata hujan yang dalam bahasa Mandarin adalah “yu” dengan pelafalan “yu” yang berarti kenaikan alias surplus.

Menurut Rizky, keluarga Tionghoa memang senang jika hujan turun pada malam Imlek karena dipercaya memberikan berkah lebih. Namun, kepercayaan hujan membawa berkah atau tidak, lanjutnya, kembali pada keyakinan setiap orang.

"Orang memang meyakini hujan sebagai tanda keberuntungan tahun mendatang,” tutur Rizky, “Namun, rezeki datang bagi mereka yang mau berusaha, sementara kita tahu masyarakat Tionghoa itu cekatan dan kerja keras.”

Perayaan Imlek di tengah hujan. (Birminghammail)

So, mau turun hujan atau tidak saat Imlek nggak terlalu berpengaruh bagi masyarakat di era modern yang nggak semuanya berporfesi sebagai petani. Namun, siapa, sih yang nggak suka hujan? Petrikor bikin tentrem, dinginnya bikin adem… Duh, jadi keinget mantan, eh, eh! Ha-ha. (IB20/E04)