Meminta Kesuburan Tanah dan Panen yang Melimpah Melalui Festival Kebo-keboan

Meminta Kesuburan Tanah dan Panen yang Melimpah Melalui Festival Kebo-keboan
Keseruan festival kebo-keboan. (Kumparan.com)

Melalui festival kebo-keboan, masyarakat berharap tanah pertanian subur sehingga menghasilkan panen yang melimpah ruah.

Inibaru.id – Jika sempat berkunjung ke Banyuwangi bertepatan dengan Suro (10 Muharram), kamu wajib mendatangi Kecamatan Singojuruh karena ada tradisi yang sampai sekarang tetap dilestarikan yaitu kebo-keboan.

Sesuai tulisan di idntimes.com, (25/9/2018), tradisi kebo-keboan merupakan sebuah ritual untuk memohon kesuburan sawah dan hasil panen yang melimpah. Awal mulanya, tradisi unik ini diselenggarakan untuk memohon kepada Yang Mahapencinta hujan lekas turun saat musim kemarau panjang dan sebagai penolak bala. Dalam tradisi ini terdapat beberapa aktrasi yang menarik untuk kamu lihat dan menjadi agenda tahunan Kabupaten Banyuwangi.

Dalam Festival Kebo-keboan, pemangku adat akan memilih warga  yang bersedia menjadi kerbau jadi-jadian (kebo). (Kumparan.com)

Untuk memulai tradisi ini, seseorang harus terpilih menjadi manusia kerbau dan harus didandani menyerupai kerbau (kebo, dalam bahasa Jawa). Mereka bakal diberi tanduk dan diberi warna hitam di sekujur badan. Hal tersebut melambangkan kalau kerbau merupakan binatang yang kuat dan menjadi tumpuan masyarakat, khususnya petani. Oh iya, tradisi kebo-keboan ini diselenggarakan hampir di semua desa di Kecamatan Singojuruh lo.

Jika sudah terpilih, kerbau jadi-jadian akan diarak menuju area persawahan. (photobanyuwangi.blogspot.com)

Beda dengan desa lainnya yang memilih pemeran manusia kerbau berdasarkan ketentuan pemuka adat, di Desa Aliyan, penentuan siapa yang menjadi manusia kerbau nggak ditentukan oleh pemuka adat desa setempat, melainkan melalui arwah leluhur yang memilih. Duh, serem. He-he-he.

Tari Sri Suguh

Dilansir detik.com, (1/10/2017), sebelum tradisi kebo-keboan dimulai, Tari Sri Suguh lebih dahulu tampil untuk menghibur masyarakat yang hadir. Tari ini menceritakan tentang keagungan Dewi Sri yang dipercaya bakal menjaga tanaman padi, kesuburan sawah, dan memberikan hasil panan panen yang melimpah.

Sebelum dimulainya Festival Kebo-keboan, Tari Sri Suguh dipentaskan sebagai pembuka acara.(indonesiatripnews.com)

Selanjutnya Tradisi Kebo-keboan dibuka dengan manusia yang berperan sebagai kerbau masuk ke area sawah. Di lehernya tergantung lonceng kerbau yang kemudian digoyang-goyangkan laiknya kerbau sedang berjalan. Di sawah, kerbau jadi-jadian tersebut bertingkah layaknya kerbau sungguhan: membajak sawah bahkan saling kejar-kejaran antarkerbau.

Sesampainya di sawah, kerbau jadi-jadian tersebut sibuk membajak sawah. (Viva.co.id)

Setelah selesai membajak, biasanya antarkerbau saling kejar-kejaran bahkan warga ikut dikejar juga. Wah, seru dan rame banget ya!

Warga yang menonton Festival Kebo-keboan sedang dikejar kerbau jadi-jadian. Warga yang menonton Festival Kebo-keboan sedang dikejar kerbau jadi-jadian. (uitvconnect.com)

Ada yang membajak sawah hingga saling adu tanduk. Meski sering terjadi adu fisik antarkerbau jadi-jadian, maupun dengan penonton, acara ini tetap berlangsung penuh suka cita. Acara diakhiri jika pemeran Dewi Sri hadir untuk menaburkan benih padi ke sawah agar para petani merasa terbantu atas kehadiran Dewi Sri.

Acara ditutup setelah Dewi Sri datang untuk menebar benih padi ke sawah. (uitvconnect.com)

Nah, gimana, Millens, untuk menyambut 10 Muharam, di daerahmu ada tradisi serupa nggak? Kalau ada, mulai sekarang sering-sering mengenalkannya ke masyarakat luas agar lebih dikenal, ya! (MG10/E05)