Bawor, Kudi, dan Identitas Budaya Banyumas

Bawor, Kudi, dan Identitas Budaya Banyumas
Ilustrasi: Pengawas berkostum Bawor lengkap dengan kudi di tangannya menjadi cara unik yang dilakukan sebuah sekolah di Banyumas untuk mengurangi ketegangan siswa. (Ittelkom-pwt)

Bawor yang lugas dan apa adanya dan kudi yang multifungsi menjadi identitas budaya Banyumas yang masih lestari hingga kini.

Inibaru.id – ­­Bicaranya lugas, terkesan kasar, cengengesan, tapi dikenal jujur. Itulah Ki Lurah Carub Bawor atau biasa disingkat Bawor. Ia adalah anak tertua dari Semar, tokoh utama Punakawan yang dikenal sebagai penasehat para kesatria dalam kisah pewayangan di Jawa.

Di Sunda, Bawor identik dengan Cepot atau Astrajingga. Sementara, di sebagian besar wilayah di Jawa, sosok yang dikenali dari tubuhnya yang tambun, matanya yang besar, dan mulutnya yang lebar ini lebih familiar dengan nama Bagong. Bawor hanya dikenal di Kabupaten Banyumas dan sekitarnya.

Masyarakat Banyumas memang begitu menggemari sosok Bawor. Dalam tiap perhelatan wayang, ia menjadi salah satu sosok yang pasti dinantikan kehadirannya. Bawor bahkan dijadikan sebagai maskot kebanggaan wilayah yang dikenal dengan kuliner tempe mendoannya itu. 

Alasannya, sifat mudah memaafkan, apa adanya, adil, jujur, dan sederhana ini dianggap sebagai simbol orang Banyumas. Dialek Jawa ngapak orang Banyumas yang dicap lebih kasar ketimbang bahasa Jawa keraton ala orang Solo atau Semarang juga dianggap pas dengan sosok Bawor yang tutur katanya lugas.

Gaman Bernama Kudi

Kudi merupakan identitas budaya Banyumas. (Mikimedia)
Kudi merupakan identitas budaya Banyumas. (Mikimedia)

Nggak cuma karakternya yang serupa, warga Banyumas dan Bawor juga memiliki "senjata" yang sama. Kudi namanya. Senjata ini berbentuk parang asimetris bermata satu yang merupakan perpaduan kapak, celurit, dan palu.

Bagian pangkal kudi berbentuk lebih lebar, menggembung pada sisi tajamnya, lalu membengkok dan meruncing pada ujungnya. Sekilas, kudi mirip kujang, senjata khas orang Sunda, tapi lebih besar. Sisi tumpulnya juga lebih tebal, ditopang dengan gagang panjang yang cukup untuk dua genggaman.

Bagi warga Banyumas yang sebagian besar berprofesi sebagai petani, kudi adalah perkakas multifungsi yang konon sudah dikenal sejak abad ke-7. Pangkal kudi yang menggembung ibarat kapak, berguna untuk memotong atau membelah kayu atau bambu, sedangkan lekukannya untuk menghaluskan bambu yang sudah dibelah.

Sementara, bagian ujung kudi yang seperti paruh burung bengkok berfungsi sebagai celurit, untuk memangkas rumput dan cabang pohon serta mencungkil atau membuat lubang. Kemudian, punggung kudi yang tumpul dan tebal adalah semacam palu yang berguna untuk memecah batok kelapa atau memaku.  

Identitas Budaya

Patung Bawor membawa kudi di Pasar Manis, Purwokerto, Banyumas. (Kompas/Wilibrordus Megandika Wicaksono)
Patung Bawor membawa kudi di Pasar Manis, Purwokerto, Banyumas. (Kompas/Wilibrordus Megandika Wicaksono)

Masyarakat Banyumas nggak hanya menjadikan kudi sebagai perkakas pertanian, tapi juga identitas budaya. Maka, nggak heran kalau perkakas itu dijadikan sebagai senjata untuk Bawor, sosok wayang yang hanya "manggung" di sekitar Banyumas.

Selain menjadi gaman Bawor, kudi juga cukup lekat dengan kesenian tradisional Banyumas, misalnya ketoprak banyumasan dan wayang jemblung. Suparjo, dalang jemblung asal Karang­petir, Kecamatan Tambak, Ka­bupaten Banyumas mengatakan, kudi mewakili seluruh senjata dari semua tokoh wayang.

“Kudi yang serbaguna menjadi alat paling mumpuni dibanding dengan alat lain yang sejenis,” ungkap Suparjo, belum lama ini.

Sedikit informasi, wayang jemblung adalah kesenian rakyat Banyumas yang diyakini mulai berkembang saat Amangkurat I berkuasa di Jawa sekitar abad ke-17. Kesenian lisan tanpa iringan tetabuhan ini dimainkan lima orang yang bertindak sekaligus sebagai dalang, wayang, pemusik, dan pesinden.

Seperti Bawor, keberadaan kudi dalam kesenian tradisional Banyumas menunjukkan betapa pentingnya fungsi gaman tersebut bagi identitas budaya setempat. Sayangnya, kudi mulai jarang diproduksi secara massal, bisa jadi karena profesi petani semakin jarang atau kian banyak perkakas yang lebih modern.

Namun, kalau kamu pengin mencari kudi, cobalah mampir ke Kecamatan Susukan di Banjarnegara atau Keca­matan Kedungbanteng dan Sokaraja di Banyu­mas. Di tempat-tempat tersebut, terkadang pandai besi masih membuat kudi, kok. (Infop,Sp,Kom/IB31/E03)