Batik Truntum dan Kisah Cinta Rara Beruk dengan Penguasa Surakarta

Batik Truntum dan Kisah Cinta Rara Beruk dengan Penguasa Surakarta
Instalasi The Spectrum of Batik mengangkat filosofi truntum yang bermakna cahaya. (Cnnindonesia/Endro Priherdityo)

Kalau kamu bertanya siapa pencipta motif batik truntum, jawabannya adalah Rara Beruk. Dia adalah permaisuri kedua Sinuhun Paku Buwono III. Nggak cuma indah, kisah di balik penemuannya juga patut disimak.

Inibaru.id – Ada berbagai motif batik di Indonesia. Salah satu yang cukup digandrungi adalah batik truntum. Ciri khasnya, kain hitam bertabur bunga tanjung. Konon, batik ini menggambarkan rasa cinta yang semakin tumbuh (nruntum) di hati Sinuhun Paku Buwono III kepada Rara Beruk.

Dikisahkan Rara Beruk, selir Paku Buwono III sangat suka membatik. Saking senangnya, dia sering mencuri waktu untuk membatik. Dia juga yang secara nggak sengaja menciptakan motif bunga-bunga kecil yang kita kenal sebagai Truntum.

Rara hanya melihat bunga-bunga tanjung yang berjatuhan di halaman keputren dan melukisnya di atas kain hitam. Sinuhun yang melihatnya ketika itu bertanya apa nama motif indah itu. Rara pun menjawab bahwa dia belum memberinya nama.

Akhirnya, Paku Buwono-lah yang memberinya nama truntum, sesuai gambaran hatinya saat itu. FYI, secara harfiah truntum memiliki makna bersemi. Motif batik menawan ini juga memiliki makna lain, yaitu manusia nggak akan lepas dari kegelapan, tapi setidaknya selalu ada terang dari bintang-bintang.

Peran Besar Rara Beruk

Batik Art Fashion 2018 mengambil tema
Batik Art Fashion 2018 mengambil tema "Niwasana Truntum". (Soloevent)

Rara Beruk bukan hanya selir biasa. Dia terkenal cerdas, cekatan serta pandai melayani raja. Raja bahkan memintanya menjadi permaisuri kedua setelah Kanjeng Ratu Hemas.

Menurut cerita, Rara Beruk mau menjadi permaisuri jika putranyalah yang diangkat menjadi putra mahkota. Meski Paku Buwono telah memiliki 16 keturunan, semuanya lahir dari rahim para selir. Sementara, Kanjeng Ratu Hemas belum kunjung memberi keturunan.

Atas pertimbangan ini, PB III menyanggupi permintaan Rara Beruk. Setelah diangkat menjadi permaisuri, Rara Beruk bergelar Kanjeng Ratu Kencono. Dari rahimnya lahir Kanjeng Pangeran Purboyo, yang nantinya menjadi Paku Buwono IV (1788).

Peran besar Rara Beruk terlihat ketika Kasunanan Surakarta pecah menjadi dua melalui perjanjian Giyanti. Dalam perjanjian, kerajaan harus dibagi menjadi dua. Bukan cuma pundi-pundi emas, permata, dan pusaka, tapi kekayaan seni budaya juga harus dibagi.

Sayangnya, semua koleksi batik dibawa ke keraton baru yaitu Kasultanan Yogyakarta. Rara Beruk nggak berpangku tangan. Dia membawa tradisi membatik ke lingkungan keraton. Jika dulunya membatik hanya dilakukan di luar keraton, Rara kemudian mengajari para abdi dalem.

Yang menarik, gaya dan motif batik tradisi baru ini tampak sangat berbeda dengan batik-batik sebelumnya. Batik-batik yang dibawa Rara Beruk ini menjadi khas Solo yang menekankan bulatan. Sementara, motif batik sebelumnya, yang ciri khas batik Yogyakarta, adalah geometri.

Yap, rupanya ada peran besar Rara Beruk di dunia perbatikan Jawa Tengah ya, Millens. Kamu punya batik truntum nggak nih? (Tum/IB21/E03)