Bakiak, Awalnya Dipakai Bangsawan, Kini Jadi Sandal Wudu

Bakiak, Awalnya Dipakai Bangsawan, Kini Jadi Sandal Wudu
Bakiak kini dipakai wudu di masjid atau musala. (Jatimulyo.bantulkab.go.id)

Meski terbilang kuno, nyatanya bakiak masih bisa ditemui di masjid atau musala sebagai sandal wudu. Kamu pernah mengira nggak kalau sandal dari kayu ini dahulu diperuntukkan bagi bangsawan? Yuk, simak awal mula budaya bakiak ini!

Inibaru.id – Di sejumlah masjid di Tanah Air, kamu mungkin masih bisa menemukan sandal bakiak atau yang juga disebut sebagai teklek wudu. Nah, kamu tahu nggak kalau sandal ini asalnya ternyata dari Tiongkok sana dan tiba di Tanah Air ratusan tahun yang lalu?

Banyak orang yang berpikir kalau bakiak ini berasal dari Jepang. Maklum, di banyak film, anime, atau dorama Jepang, sandal ini dipakai oleh karakternya, khususnya di acara-acara tradisional. Bentuknya juga mirip dengan bakiak yang bisa kamu temui di masjid-masjid sebagai sandal yang dipakai orang-orang di tempat wudu.

Ada banyak istilah yang disematkan pada sandal bakiak ini. Ada yang menyebutnya sebagai teklek karena suaranya saat dipakai seperti itu saat menyentuh lantai. Masyarakat Jawa Timur juga ada yang menyebutnya sebagai bangkiak. Dipakai oleh kaum perempuan dari kaum bangsawan di zaman dulu, alas kaki ini bermotif kombinasi dari budaya Madura serta Tiongkok.

Bangkiak bangsawan perempuan Madura dari abad 19 yang dipajang di Museum History of Java, Yogyakarta. (Tempo/ Pribadi Wicaksono)
Bangkiak bangsawan perempuan Madura dari abad 19 yang dipajang di Museum History of Java, Yogyakarta. (Tempo/ Pribadi Wicaksono)

Di Jawa Timur, ada juga bakiak yang kastanya lebih rendah yakni klompen. Sebutan dari bahasa Belanda ini sebenarnya untuk sepatu kayu bagi kalangan buruh. Bentuknya memang benar-benar sepatu kayu, bukannya sandal dengan bagian telapaknya berupa lempengan kayu.

Sudah Ada di Nusantara Sejak Abad ke-8

Jadi ya, bakiak ini diperkirakan tiba di Nusantara pada abad ke-8. Yang membawanya adalah orang-orang dari Tiongkok daratan, khususnya orang Tang-lang dari Hokkian yang memang dikenal gemar merantau ke berbagai negara. Nggak hanya kaum laki-laki yang merantau, kaum perempuan juga ikut sembari membawa barang-barang khasnya, termasuk bakiak.

Baca Juga:
Sapaan

Sebutan bakiak sendiri berasal dari dialek Hokkian bak-kia. Menariknya, baik itu bentuk sandalnya ataupun namanya menyebar hingga ke Semenanjung Korea serta Jepang. Di Filipina, ada juga sandal dengan bentuk serupa dengan nama yang mirip, yakni bakya.

Bakiak awalnya diberi tambahan lukisan bunga cantik dan dipakai oleh kaum bangsawan. Namun di Indonesia, bakiak lebih merakyat karena dipakai para buruh, petani, hingga santri. Cara pembuatannya pun sangat mudah yakni lempengan kayu yang diberi tali atau potongan ban bekas. Selain itu, sandal ini juga dikenal awet pakai banget.

Pada sejumlah peninggalan benda bersejarah Jawa seperti arca batu yang ditemukan di Blitar dan diperkirakan dibuat pada abad ke-14 atau 15 Masehi, terlihat pahatan sandal yang menyerupai bakiak. Jadi, ada kemungkinan bakiak mulai banyak dipakai orang Nusantara di masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha berjaya di Nusantara.

Di masjid tempat kamu tinggal, apakah juga masih ada bakiak buat wudu, Millens? (Lan,Tem/IB09/E05)